December 26th, 2011 § § permalink

The God of Small Things
The God of Small Things by Arundhati Roy, bercerita tentang negara komunis Kerala, India dan cinta terlarang antara dua kasta, yang mengubah kehidupan setiap orang. The God of Small Things adalah novel pertama Arundhati Roy, pemenang Booker Prize pada tahun 1997. Sebuah kisah cinta menarik yang terjadi di negara komunis bagian Kerala, India dan diceritakan melalui mata “”two-egg twins” Estha dan Rahel. Ibu mereka baru saja bercerai, Ammu, membawa pulang anak-anaknya ke desa Ayemenem di Kerala dimana dia tidak disambut hangat oleh keluarganya. Estha dan Rahel belajar dengan cepat bahwa “hal-hal dapat berubah dalam satu hari” dan bahwa “apa pun bisa terjadi pada siapa saja.”
Novel ini mendapatkan tanggapan dan kritik yang beragam. Menurut Melani Budianta, “yang membuat novel ini disanjung para kritikus adalah strukturnya yang sangat rumit dan apik, gaya bahasa yang liris, sarat simile dan metafor, alusi dan permainan kata yang lincah, penuh humor sekaligus menggigit (dari The God of Small Things – Yang Maha Kecil, YOI, 2002). Tetapi tak sedikit yang mengecamnya dan menyatakan bahwa novel ini adalah “buku sampah yang tak layak untuk dibaca.” » Read the rest of this entry «
December 25th, 2011 § § permalink

The Missing Rose
Oh Mawar, malangnya dikau:
Cacing tak kasatmata
Yang terbang pada waktu malam,
Dalam deru badai,
Telah menemukan ranjang merah kebahagiaanmu;
Lalu cinta gelapnya yang penuh misteri
Menghancurkan hidupmu
William Blake
The Missing Rose atau dalam Bahasa Indonesia berarti Mawar yang Hilang, novel karya Serdar Ozkanyang telah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa dipublikasikan ke 40 negara di seluruh dunia. Di prolog dan epilog diceritakan tentang Ephesus, kota yang dianggap bermuka dua. Di mana di sana lah menampilkan ego sekaligus jiwa, lambang kesombongan sekaligus kerendahan hati, wujud dari perbudakan sekaligus kemerdekaan. Kota di mana dua hal bertentangan saling terkait.
“Dua adalah satu… “, itu lah awal kalimat di “bagian satu” cerita, di mana ego dan kesombongan menjadi satu dengan jiwa dan kerendahan hati. Di alur cerita maju digambarkan bagaimana “Dua adalah satu” dan disimbolkan dalam mawar-mawar di taman mawar.
Pemeran utama dalam novel ini adalah Diana, wanita muda yang cerdas dan cantik, memiliki segalanya, namun tidak bahagia, karena kebutuhannya untuk mendapatkan persetujuan dan pujian dari orang-orang lain, telah membuatnya tidak bisa menjadi dirinya sendiri.
Kondisi Diana semakin memburuk ketika ibunya meninggal dunia, ditambah lagi janji yang harus dipenuhinya sebelum ibunya meninggal dunia “mencari saudari kembar identiknya, Marry”. Bagaimana tidak, tidak ada petunjuk di mana Diana harus mencari saudari kembarnya selain empat surat Marry yang diberikan kepada ibunya sebelum meninggal dunia, dan di dalam surat tersebut hanya ada tiga informasi tentang “Zaynep”, “Socrates” dan nama istana.
Di tengah kebuntuan memenuhi janjinya dan melawati hari-hari sulit ditinggal ibunya, Diana bertemu pengemis yang dapat meramal dirinya dan akhirnya bertemua dengan seorang seniman, Mathias namanya. Teman barunya itu membuat Diana lebih baik dari sebelumnya, mencoba saling mengenal dan berbagi cerita. Setelah saling mengenal dan berusaha memahami, Mathias memutuskan pergi tanpa pamit. » Read the rest of this entry «
December 24th, 2011 § § permalink

Kalau kita buka koran-koran terkenal di Amerika Serikat, semisal The Washington Post, maupun The New York Times, pada halaman Arts (seni), maka kita selalu dapati iklan musik/opera ‘Les Miserables’ yang umumnya telah dipertunjukkan di AS bertahun-tahun lamanya. Les Miserables, ucapan bahasa Perancisnya adalah le mizerable, spellingnya tentunya salah karena huruf di komputer berbeda bentuknya, artinya orang malang/celaka. The wretched, orang sial/celaka. The poor ones, orang-orang miskin atau the victims, orang-orang berkorban, ini adalah sebuah judul novel Perancis di tahun 1862 dengan pengarang Victor Hugo dan dikenal sebagai novel yang paling terkenal di abad ke sembilan belas. Menceriterakan interaksi rakyat Perancis diabad ke 18 yang memperjuangkan revolusi kebudayaan dari berbagai golongan, misalnya kaum pelacur, pekerja pabrik, dan pelajar-pelajar. Pergerakan ini dimulai di tahun 1815 sampai 1832.
Banyak tindakan hebat telah dilakukan di dalam perjuangan-perjuangan kecil kehidupan. Ada keberanian yang kukuh meskipun tak terlihat, untuk mempertahankan diri dalam kegelapan melawan serbuan kemiskinan dan kebejatan moral. Inilah kemuliaan dan kemenangan batin yang tidak terlihat oleh siapapun, tidak berbalas kemasyhuran, tidak ada lambaian tangan penghormatan atas kemenangan. Kehidupan, kemalangan, keterasingan, penolakan, kemiskinan, adalah medan perang yang memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri. Para pahlawan yang tak dikenal ini kadang justru lebih hebat daripada para pahlawan yang termasyhur -Les Miserables, hal. 290
Les Miserables, merupakan karya terbesar yang ditulisnya semasa pembuangan di Pulau Guernsey pada tahun 1851 karena ia dianggap beroposisi dengan Napoleon III. Les Miserables mengisahkan tentang kehidupan seorang mantan narapidana bernama Jean Valjean. Jean Valjean dihukum kerja paksa di kapal Toulon selama 19 tahun karena sebuah kesalahan kecil, yaitu mencuri roti. Ketika itu Jean Valjean hanyalah seorang tukang kebun di sebuah kota kecil Faverolles yang harus ikut menghidupi keponakan-keponakannya. Suatu kali ia pulang tanpa membawa sepotong roti pun untuk keponakan-keponakannya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk mencuri sepotong roti, yang berakibat pada hukuman kerja paksa di kapal Toulon meski ia tak berhasil mendapatkan sepotong roti pun. Kapal kerja paksa Toulon telah mengubah seorang Jean Valjean menjadi sosok yang keras. Ia memasuki kapal kerja paksa Toulon dengan kepala tertunduk, tapi keluar dengan dagu terangkat dan tanpa mau menoleh ke belakang. Tak pernah sekalipun air mata menetes selama 19 tahun hukumannya. Setelah bebas dari hukumannya, ternyata ia masih harus menghadapi kenyataan pahit di tengah masyarakat. » Read the rest of this entry «
December 24th, 2011 § § permalink

Ketika saya pertama kali mulai membaca, saya menemukan banyak item yang menarik dalam teks, tapi tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi di plot dalam banyak bab. Buku ini kaya dengan analogi, simbolisme, dan makna ganda. Saya tidak berpikir ada dua orang bisa datang membaca buku ini dengan kesan yang sama. Ini tentu bukan buku untuk dibaca semua orang. Yup, untuk para sahabat Rose yang belum memiliki novel ini, saya menuliskan sedikit novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Bentang Pustaka pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.
Nama Umberto Eco sendiri di Indonesia tidak kalah populer dibandingkan Michel Foucault. Para pemerhati kajian semiotika tidak akan melewatkan bukunya, A Theory of Semiotic, sebagai salah satu kajian pustakanya. Selain ahli semiotik, ahli sejarah abad pertengahan, kajian budaya kontemporer, dan sejumlah keahlian lainnya, Eco juga seorang novelis. Pria kelahiran Italia 1932 ini telah menulis enam novel. Dua di antaranya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, The Name of the Rose dan Boudolino yang dalam bahasa Italia pertama kali terbit masing-masing pada tahun 1980 dan 2000. Buku kajian budayanya, Travels in Hyperreality (Tamasya dalam Dunia Hiperealitas) juga telah diterbitkan di Indonesia tahun 2004.
Novel Foucault’s Pendulum adalah novelnya yang kedua setelah The Name of the Rose (1980). Novel-novel Eco bukanlah novel yang linear menyajikan sebuah narasi atau kisah yang menarik seperti novel pada umumnya. Novel-novel Eco lebih berupa kisah dengan penggambaran tentang rentang waktu yang panjang dan terkait dengan peristiwa-peristiwa historis yang cukup kaya. Karya-karyanya berupa intertekstualitas, khususnya tentang sejarah abad pertengahan, sebuah rentang waktu dan wilayah yang tidak mudah dipahami, bahkan oleh orang-orang Eropa sendiri. Untuk memahami novel The Name of the Rose perlu sebuah buku panduan tersendiri. Tampaknya hal yang sama juga berlaku untuk novel Foucault’s Pendulum (meski buku panduan atau keterangan tambahan tentang hal itu belum ada).
Novel ini sebenarnya memiliki latar cerita pada akhir tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an di sekitar Milan, Paris, dan Brazil. Akan tetapi, kisah yang dipaparkan di dalamnya merentang dalam waktu yang cukup panjang, mulai dari abad ke-11 hingga abad ke-20. Fokusnya pada sepak terjang Knight Templar, sebuah ordo ksatria yang muncul pada masa perang salib di Yerusalem. Permasalahannya, riwayat Knight Templar bukanlah sebuah riwayat yang sederhana. Kelompok ini memiliki intrik yang cukup tajam dengan beberapa pihak kerajaan di Eropa dan Paus di Vatikan. Pada awalnya, kelompok yang mengawal para peziarah Eropa yang pergi ke Yerusalem hanya sebuah kelompok yang didirikan oleh sembilan orang, lalu menjadi kelompok atau ordo yang kuat dan kaya, kemudian berseberangan dengan pihak Vatikan, diberangus, setelah itu muncul sebagai kelompok yang kemudian sering disebut dengan Iluminati atau Freemasonry. Kelompok ini seringkali dikaitkan dengan kekuatan yang menguasai dunia dan bersifat rahasia. Pembicaraan tentang Masonry seringkali dikaitkan dengan Teori Konspirasi Dunia. » Read the rest of this entry «