Browsing "Tilik Koran"
Nov 21, 2013 - Tilik Koran    No Comments

Pepih Nugraha Menjawab

Hebohnya dunia maya dan dua kali Mawar Merah menuliskan perihal tulisan Jilbab Hitam, Sejenak Membaca Jilbab Hitam dan Saat Tempo Berjilbab Hitam. Fenomena ini menimbulkan diskusi lebih lanjut, seberapa besar keharusan sebuah situs penyedia blog dalam mengontrol konten-kontennya?

Menurut Pepih Nugraha, manajer Kompasiana, alur yang terjadi sudah benar. Sebuah opini yang dilontarkan seseorang dalam blognya, ditanggapi dengan opini dari Tempo. “Sebuah opini dilawan oleh opini, bukan jalur hukum.”

Diskusi kemudian berkembang ke topik sejauh mana sebuah pengelola platform blog berhak menghapus atau mencabut sebuah blog. Pepih menyatakan, Kompasiana mencabut tulisan dari si penulis itu karena melanggar aturan. Aturan pertama, tidak jelasnya identitas penulis. Setelah di runut dan ditelisik, nama yang digunakan penulis, Jilbab Hitam, membuat blog dengan akun email Gmail Jilbab Hitam. Karena identitasnya tidak jelas, pihak Kompasiana kemudian mencoba menghubungi penulis.

“Ketika mencoba dihubungi via email dan lewat komentar juga tidak menjawab. Tidak ada niat baik untuk berbagi dan tulisan menyerang. Setelah diteliti, memang Jilbab Hitam hanya sekali menggunakan platform Kompasiana. Seperti hit dan run, ketika coba dihubungi tak menjawab,” ujar Pepih kepada DailySocial. Read more »

Nov 21, 2013 - Tilik Koran    1 Comment

Saat Tempo Berjilbab Hitam

Setelah membaca sejenak Jilbab Hitam, dalam tulisannya di Kompasiana, pada 11 November 2013, telah menghebohkan banyak pihak. Tak kurang, Tempo sendiri menurunkan 5 tulisan bantahan atas informasi yang iia paparkan. Menurut saya justru, dari sisi ruh tulisan, jelas tulisan Jilbab Hitam lebih kuat, lebih jujur, lebih asli, tidak dibumbui bahasa-bahasa hipokrit dan formalisme. Informasi yang lumayan lengkap mengenai apa yang ia yakini dan menjadi judul tulisannya Kebobrokan Media di Indonesia. Sangat disayangkan, Kompasiana men-delete begitu saja tulisan itu. Bahkan dalam ulasan di Kompasiana.com disebutkan, bahwa “Jilbab Hitam” hanyalah pemain amatir dan tulisannya dangkal.

Saya mengapresiasi sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat dan ekspresi. Berikut tulisannya:

Kebobrokan Media di Indonesia

Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’. Read more »

Apr 28, 2013 - Tilik Koran    No Comments

Saat Senyum Matahari Mengumbar


Bagi mereka yang percaya bahwa media massa haruslah sejalan dengan nafsu kapitalisme modern, hendaklah menengok Charles Anderson Dana. Dana memimpin sebuah koran yang didedikasikan untuk perjuangan buruh: The New York Sun. Saat semua media berpihak pada kelas pemodal, Dana menunjukkan bahwa The Sun (yang berarti Surya) menyinari semua tanpa memandang kelas sosial.

Tompkins Square Park di New York dingin dan dilapisi salju, 13 Januari 1874. Krisis ekonomi membuat ribuan buruh tak punya pekerjaan, dan berunjuk rasa menuntut lowongan kerja. Sejak awal pemerintah kota dan polisi sudah menolak pelaksanaan aksi ini.

Buruh tetap bersikeras. Dua pertiga aparat kepolisian membuat barikade antara Alun-alun Tompkins dengan Balai Kota New York. Buruh berbaris, dan polisi mulai menyerang mereka dengan pentungan. Darah mengucur. Sebanyak 46 orang demonstran ditahan.


Semua media massa mengutuk aksi kekerasan sebagai kesalahan kaum buruh. The New York Tribune menyebut para demonstran sebagai orang asing gila, dan tuntutan atas pekerjaan dan makanan disebut sebagai ‘omongan yang goblok dan kriminal’.

Dana berdiri sendirian. The New York Sun, menjadi advokat para buruh yang marah itu. Editorial Sun menyalahkan pemerintah kota dan polisi. Polisi harus bertanggung jawab. Kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian, menurut Dan, “Bukanlah cara yang pantas dalam memperlakukan warga Amerika.”
Read more »

May 7, 2012 - Tilik Koran    No Comments

Melihat Korea Utara

Perhatikanlah kamera video yang sangat kuno yang dipakai oleh juru kamera Korea Utara ini. Sangat memprihatinkan, dan sangat kontras dengan kamera video yang dipakai oleh reporter asing yang berdiri di sebelahnya. Demikian juga dengan busana yang dikenakannya. Kelihatan sekali terbuat dari bahan kain yang kasar dan sangat murah. Entah kamera video buatan tahun berapa itu?

Aug 21, 2011 - Tilik Koran    No Comments

Pasang Surut Legiun Mangkunegara

Sejak didirikan tahun 1808, Legiun Mangkunegara mencatat sejarah panjang sebagai unit militer Nusantara paling modern di zamannya. Legiun Mangkunegara ikut dalam pelbagai kancah pertempuran, seperti Perang Napoleon di Asia sebagai bagian dari pasukan Perancis-Belanda melawan pasukan Inggris-Sepoy (India) tahun 1811, Perang Jawa (Perang Diponegoro, 1825-1830), Perang Aceh (1873-1904), sejumlah operasi militer di Nusantara, hingga menghadapi Jepang dalam perang Pasifik (1942) di seantero Nusantara.

Raden Mas Sarwanta Wiryasuputra dalam buku Legiun Mangkunegara yang diterbitkan Reksopustoko, Perpustakaan Istana Mangkunegaran, 1978, menjelaskan, operasi tempur pertama terjadi pada masa kepemimpinan Herman Willem Daendels, sang perwira kepercayaan Napoleon Bonaparte, pada tahun 1808.

Ketika itu, kekuatan Legiun Mangkunegara di bawah Pangeran Ario Praboe Prang Wedana sebagai kolonel dalam dinas Sri Baginda Lodewijk Napoleon- kerabat Napoleon Bonaparte- memiliki total 1.150 prajurit yang dibagi dalam 800 prajurit infanteri (Fusilier), 100 prajurit penyerbu (Jagers), 200 prajurit kavaleri (berkuda), dan 50 prajurit rijdende artileri (meriam).

Struktur awal staf dan anggota Legiun Mangkunegara memiliki 2 orang perwira senior berpangkat mayor, 4 letnan ajudan, 9 kapitein, 8 letnan tua, 8 letnan muda, bintara sebanyak 32 sersan, tamtama sebanyak 62 kopral, flankier 900 orang, dragonder (dragoon) 200 orang, dan steffel 50 orang. Mereka menggunakan seragam topi syako dan jas hitam pendek bagi bintara dan prajurit. Perwira memakai topi syako, jas hitam, dan celana putih.

Saat Inggris mengalahkan Perancis, Legiun Mangkunegara dibubarkan oleh pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Namun, karena desakan kebutuhan, Legiun Mangkunegara segera dimobilisasi kembali.

Sewaktu perdamaian tercapai di Eropa, Hindia Belanda pun dikembalikan Inggris kepada Belanda pada tahun 1816. Ketika itu, kekuatan Legiun Mangkunegara sebanyak 739 serdadu. Kemudian, susunan organik ditetapkan sebanyak 800 orang.

Pada Perang Jawa (1825-1830), kekuatan Legiun Mangkunegara ditingkatkan menjadi 1.500 orang. Seusai perang, kekuatan Legiun Mangkunegara dikurangi menjadi 1.000 personel.


Modernisasi Legionnaire Jawa

Reorganisasi dan modernisasi dilakukan menyeluruh pada era Mangkunegara IV (1853-1881). Mangkunegara yang berhasil membangun perekonomian dengan perkebunan tebu, industri gula, dan agrobisnis lainnya mengembangkan Legiun Mangkunegara sedemikian rupa. Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu didirikan oleh Mangkunegara IV dan menjadi sumber kemakmuran kawula Mangkunegara.

Demi membangun militer yang profesional, dibuat buku panduan Soldat Sekul (Sekolah Prajurit) pada tahun 1855 oleh Fredericus Willhelmus Winter, seorang guru bantu di Surakarta. Instruksi bagi Legionnaire menggunakan bahasa Belanda yang “dijawakan”. Sebagai contoh, purwares mares (voorwarts mars) yang berarti maju jalan, gewonepas (gewone pas), yakni jalan biasa, dan geswindepas (gezwinde pas) yang berarti jalan dipercepat.

Pelatih profesional pun didatangkan pada tahun 1875, yakni seorang kapten infanteri, 4 bintara infanteri Eropa, ditambah masing-masing seorang letnan dan bintara kavaleri Eropa.

Karena kesulitan keuangan, pada tahun 1888 satuan artileri yang berkekuatan 50 prajurit dan setengah baterai lapangan (field battery) yang memiliki empat pucuk meriam kaliber 80 milimeter ditiadakan.

Semasa Perang Dunia I (1914-1918) berkecamuk di Eropa, Afrika, dan Asia, kekuatan Legiun Mangkunegara dikembangkan hingga 2.000 personel. Kala itu timbul polemik tentang Indie Werbaar (Pertahanan Hindia Belanda) di Nusantara tentang upaya melibatkan masyarakat setempat dalam menjaga Hindia Belanda dari serangan militer asing. Setelah perang berakhir, jumlah pasukan kembali diciutkan menjadi 925 prajurit pada tahun 1922.

Modernisasi terakhir dialami tahun 1935 menjelang Perang Dunia II pecah di Pasifik. Mangkunegara VII, seperti para pendahulunya, selalu mencermati perkembangan dunia dan mengembangkan Legiun Mangkunegara sedemikian rupa. Legiun Mangkunegara dibagi atas staf dan satu setengah batalyon infanteri.

Staf legiun memiliki ajudan atau intendan, dokter militer, dan korps musik. Sementara batalyon dibagi atas enam kompi serta unit mitraliur (senapan mesin). Legiun Mangkunegara terlibat dalam pertempuran melawan Jepang di Pulau Tarakan, Kalimantan Timur, menghadang Jepang di Surakarta dalam pertempuran di sekitar Jalan Slamet Riyadi, serta pertempuran terakhir sebelum Pulau Jawa jatuh ke tangan militer fasis Jepang di sekitar Pulau Madura, Jawa Timur, Stelling Ciater-Lembang di Jawa Barat, dan mempertahankan Pelabuhan Cilacap di Jawa Tengah.

Setelah Jepang menguasai Nusantara, Legiun Mangkunegara pun dibubarkan. Menurut sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, banyak di antara mantan Legionnaire yang menyumbangkan keahlian mereka ke dalam militer Republik Indonesia.(ONG/EKI/GAL) Read more »

Aug 12, 2011 - Tilik Koran    No Comments

SALAFI vs SABILI (Sebuah Bantahan Terhadap Majalah Sabili)



Redaksi adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah.

Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuhu. Telah banyak sms seperti diatas yang dilayangkan ke meja Redaksi. Kesemuanya meminta kepada kami untuk membuat semacam jawaban atau bantahan atas tulisan yang dimuat di majalah tersebut. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Redaksi memutuskan untuk memberikan tanggapan sekaligus bantahan. Insya Allah jawaban yang ditulis oleh Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc ini memuaskan dan sangat mencukupi. Sidang pembaca harus membacanya dengan seksama.

Perlu untuk kita ketahui disini, bahwasanya sudah merupakan ketetapan Allah ta’ala adanya musuh penentang dakwah para Nabi. Dakwah mereka dibenci, dimusuhi, bahkan sampai diperangi. Demikianlah kira-kira yang telah dialami oleh para Nabi terdahulu yang merupakan sebaik-baik manusia. Maka, sangat wajar sekali bila para ulama’ sebagai perwaris para Nabi, demikian pula para pengemban dakwah yang Haq ini terus digunjing, dihujat, dihasadi, difitnah, dst.

Dalam perumpamaan orang arab disebutkan :

“Biarkan anjing menggonggong, Kafilah tetap berlalu.”

Kebenaran adalah kebenaran meskipun tidak semua orang dapat melihatnya. Dan kebathilan adalah kebathilan meskipun tampak bagi mayoritas manusia. Adapun tugas kita, memohon kepada Allah agar kita diperlihatkan yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil. Wallahul Musta’an

SALAFI vs SABILIOleh Ustadz Abu ‘Abdirrahman bin Thoyyib as-Salafy, Lc

Lidah memang tak bertulang, sehingga banyak manusia yang berbicara tanpa ilmu, menuduh tanpa dalil dan menulis serta memvonis tanpa berpikir. Itulah Majalah Sabili, pada edisi no.10 tahun XVII desember 2009/23 Dzulhijjah 1430 Sabili memuat beberapa artikel yang berisikan celaan dan tuduhan dusta kepada Dakwah Salafiyyah yang mubarokah ini dan sekaligus berisikan pembelaan terhadap kebathilan dan para pengikutnya. Allah -عزّ و جل- berfirman :

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan kecuali dusta”. (QS.al-Kahf:5)

Maka dengan memohon taufiq dan pertolongan-Nya kami akan berusaha untuk menyingkap sebagian kedustaan dan kebathilannya.

“Agar orang yang binasa itu binasanya karena keterangan yang nyata dan agar orang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula”. (QS.al-Anfaal:42) Read more »

Aug 5, 2011 - Tilik Koran    No Comments

Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi

Begitulah judul kisah yang lagi ramai di internet dan juga di bulletin jum’at. Kisah ini disebarluaskan oleh beberapa kyai dan Habib dan diamini oleh banyak santri. Bagaimana kisah tersebut? Berikut alur cerita yang mereka sebarkan:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin–ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer–mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan tawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,

“Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.” Read more »

Aug 2, 2011 - Tilik Koran    No Comments

Semburat Cahaya Islam di Belanda

Republika, 04 Feb 2000

DEN HAAG malam itu menggigil dalam suhu udara 3 derajat Celcius. “Inilah masjid kita,” kata M Chaeron, mantan Ketua Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME), kepada Republika di Den Haag. Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.

Pada akhir 1995, di saat umat Islam Indonesia berupaya keras mengumpulkan dana untuk mendirikan masjid — setelah musholah Al-Ittihad tidak dapat lagi menampung jamaah yang terus bertambah — Probosutedjo, pengusaha Indonesia, membeli gereja tersebut dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang wafat di Leiden, Desember 1995 setelah dirawat di kota itu. Masjid itu diserahterimakan Probo untuk umat Islam pada 1 Juli 1996.

Mengapa gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah, sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya.

Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan lalu, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.

Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang deretan jumlah masjid di Belanda. Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 di seluruh Belanda. Ini meningkat jauh dari 1971, yang ketika itu hanya terdapat beberapa buah, di antaranya Masjid Mubarak yang didirikan kalangan Ahmadiyah (1953), dan Masjid Maluku An-Nur di Balk. Masjid Maluku itu didirikan eks anggota Koninklijk Nederlandse Indische Leger (KNIL). Pada 1951-1952 sekitar 12 ribu anggota KNIL beserta keluarganya dari Maluku dibawa ke Belanda. Sebagian mereka beragama Kristen, sebagian lainnya Islam. Saat ini diperkirakan terdapat lebih 50 ribu orang Maluku di Belanda.

Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat Islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen). Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan sekitar 0,5 persen pemeluk Hindu. Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, dan meningkat pesat pada 1993 menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 persen setahun. Umat Islam itu berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,2 persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), Indonesia (1,6 persen), dan lainnya (3,9 persen). Bertambahnya jumlah umat Islam dari tahun ke tahun itu, diperkirakan berasal dari imigran dan sebagian lain mendapatkan hidayah, dan pernikahan.

Islam di Belanda awalnya diperkenalkan sekelompok mubaligh Ahmadiyah. Kelompok yang menamakan dirinya Holland Mission ini giat berdakwah melalui diskusi dan berbagai tulisan. Mereka juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Belanda.

Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, seperti dikutip Muhammad Hisyam dalam buku PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah Islam di Nederland, orang Islam pertama yang datang ke Belanda justru adalah Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Hanya saja, kedatangan Abdus Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu kunjungan yang singkat.

Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia. Ketika Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan Perkoempoelan Islam. Organisasi, yang didirikan seorang Belanda Van Beetem yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali, ini diakui pemerintah Belanda, dan merupakan organisasi Islam pertama.

Selanjutnya, pada 1951-1952, sekitar 12 ribu anggota KNIL yang sebagian besar berasal dari Maluku, sebanyak 200 di antaranya beragama Islam, datang ke Belanda. Mereka yang semula ditempatkan dalam satu kamp dengan non-Muslim, lalu memisahkan diri dan bergabung sesama Muslim di kamp Wijldemaerk, Desa Balk, Provinsi Friesland. Di sinilah mereka membangun Masjid An-Nur yang dipimpin Haji Ahmad Tan. Sebagian lain, yang pindah ke Riiderkerk, mendirikan Masjid Baiturrahman yang indah pada 1990. Masjid ini pendanaannya dibantu Pemerintah Belanda.
Muslim Indonesia

Seperti Muslim Maluku, Ahmadiyah, Maroko, Suriname, dan Tunisia — yang mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwah, dan membina agama bagi kelompoknya — Muslim Indonesia pun membentuk kelompok tersendiri. Selain Perkoempoelan Islam, juga berdiri Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) pada 1971. PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan pemuda Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, para mahasiswa Indonesia dari Timur Tengah, termasuk Abdurrahman Wahid (Gus Dur) — kini Presiden RI — umumnya memilih Belanda dan Jerman sebagai tempat liburan. Melalui diskusi-diskusi intensif, para pemuda dan mahasiswa Indonesia di perantauan tersebut, akhirnya disepakati dibentuknya sebuah organisasi.

Pertemuan pertama diadakan pada musim dingin awal Januari 1971 di Den Haag. Hadir ketika itu dari Rotterdam yakni Gus Dur, T Razali, Moh Chaeron, A Hambali Maksum, Abdul Muiz Kaderi, Rais Mustafa, dan Moh Sayuti Suaib. Dari Den Haag hadir Ramhat Zitter, Amir Alhajri, dan Jus Muhtar; dari Jerman Abdul Wahid Kadungga, Ali Baba, dan A Donny.

Pada 12 April 1971, PPME resmi dibentuk. Ketua ketika itu dipilih Abdul Wahid Kadungga, sekteratis Hambali Maksum. Gus Dur ketika itu diunggulkan memimpin organisasi ini, namun ia menolak karena berencana pulang ke Indonesia.

Ahmad Nafan Sulchan bercerita, jika ke Belanda Gus Dur selalu bertemu dengan para pengurus PPME, bahkan menginap di Mushola Al-Ittihad yang didirikan PPME. Beberapa bulan sebelum menjadi Presiden RI, Gus Dur sempat mengatakan bahwa jika ia datang lagi ke Belanda, ia tidak lagi bisa bebas seperti semula karena sudah diatur protokoler.”Ternyata, benar. Gus Dur kini menjadi Presiden,” ujar Nafan kepada Republika di Den Haag dua pekan lalu.

Mushola Al-Ittihad yang terletak di Daguerrestr No 2 Den Haag itu, juga pernah dikunjungi tokoh-tokoh Indonesia, antara lain Jenderal Purn AH Nasution, Ruslan Abdul Gani, Munawir Sadjzali, Nurcholis Madjid, WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, dan Taufik Abdullah.

Setelah PPME terbentuk di Belanda, dua tahun kemudian di Jerman dibentuk pula PPME. Pernyataan berdirinya PPME pada 19 Januari 1973 itu antara lain ditandatangani oleh Akias AM, Romdhon Bernama Kusumah, AM Saefuddin, Saiful Rangkuti, Hasbi Tirtapraja, Sofyan Sadeli, Suparwata Rasyid, Titie Bernama Kusumah, Syamsuddin, Masykur Abdullah. Ketua umum dijabat Rasjid Soeparwata, seketaris umum Sofyan Sadeli. Sedangkan AM Saefuddin, mantan Menpangan, sebagai penasihat.

Dengan berdirinya PPME Jerman, status PPME Belanda akhirnya dinaikkan menjadi Dewan Pimpinan Pusat PPME, sedangkan Jerman menjadi Dewan Perwakilan Wilayah. Juga dibentuk DPW lain, yakni DPW Holland dengan cabang antara lain Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Delf. Di Jerman, dibentuk cabang Dortmund, Frankfurt, Darmstadt, Offenbach, Giessen, dan Berlin.

Dalam perjalanannya, PPME yang menyadari posisi umat Islam minoritas, menjalin kerjasama organisasi-organisasi Islam internasional. Kontak-kontak kerjasama antara lain dilakukan dengan Mu’tamar al-’Alam al Islami di Pakistan, Muslim Word League di Makkah, Rabithah al-’Alam al-Islami di Makkah, dan World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyad. Hubungan dengan lembaga-lembaga tersebut antara lain soal buku-buku dan informasi. PPME adalah anggota tetap WAMY.

Hubungan kerjasama juga dilakukan dengan organisasi-organisasi Islam di Belanda dan Jerman, antara lain dengan organisasi Islam Turki, Maroko, Tunisia, dan Suriname. Di Belanda, juga berdiri Nederlandse Islamitische Parlement (NIP), organisasi yang bergerak dalam bidang penggalangan dan penyatuan organisasi-organisasi Islam di Belanda. Selain itu ada pula Federasi Organisatie Muslim Nederland. Federasi ini berfungsi mewakili kepentingan umat Islam dalam hubungannya dengan Pemerintah Belanda. Hubungan PPME dengan organisasi-organisasi itu antara lain menyangkut tukar menukar informasi.

Dalam skala besar, PPME menjalin hubungan dengan Rabithah Alam Islami, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Stichting Der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), dalam mengirim dai-dai ke Suriname. Melalui PPME pula, sejumlah alumni Timur Tengah berhasil direkrut sebagai guru agama di Suriname. Read more »

Jul 26, 2011 - Tilik Koran    No Comments

Knights Templar: Norway ‘crusader’s’ group explained

By Elizabeth Flock
This image of Anders Behring Breivik from a manifesto attributed to him shows Breivik in a uniform with a white and red cross of the Knights Templar. (AP) In a detailed diary kept by Anders Behring Breivik — the Norwegian man charged with killing at least 94 people in a bombing in Oslo and shooting on a nearby island Friday — the suspect details months of preparations that led up to the attacks.

Breivik also exhaustively references the Knights Templar, which he calls an “international Christian military order,” that “fights” against “Islamic suppression.”

Monday, it was reported that a Mexican drug ring also invoked the obscure Knights Templar.

Who are they?

The Knights Templar’s earliest function in around 1119 was to protect Christian pilgrims traveling to the Holy Land. The armed group soon became known as the most skilled in the battles to reclaim Jerusalem from the Arabs and racked up several successive victories over Muslim forces.

But by 1303, the knights had been forced out of the Holy Land and returned to western Europe. They fled to France, where they were seen as an armed threat by King Philip the Fair, who had many of them tortured and executed. The king had the support of Pope Clement V, who issued a papal bull that made sure the group was disbanded by 1312.

Since then, rumors of the surviving knights have come and gone, including one rumor that the knights could destroy the Catholic church with a single secret they held.

Breivik says the Christian military order was refounded in 2002 in London under the name PCCTS as an armed “anti-Jihad crusader-organization.”

The Templar are recognizable by white tunics with red crosses, a symbol Breivik put on the front page of his “2083: A European Declaration of Independence,” and emblazoned on homemade uniforms featured on his Facebook page.

In his diary, Breivik wrote of his plan of attack: “If you for some reason survive the operation you will be apprehended and arrested. This is the point where most heroic Knights would call it a day. However, this is not the case for a Justiciar Knight. Your arrest will mark the initiation of the propaganda phase.”

Breivik gave himself the ranking of the Justiciar Knight, and said there were up to 80 such “knights” around western Europe, all “completely unknown to our enemies.”

Breivik’s actual membership in the organization has yet to be established.

Sumber

Jul 20, 2011 - Tilik Koran    No Comments

Mantan wartawan News of the World ditemukan tewas

Seorang mantan wartawan News of the World (NoW), harian tertua di Inggris yang ditutup akibat skandal penyadapan telepon terhadap sumber beritanya, ditemukan tewas.

Sean Hoare, adalah orang yang pertama mengeluarkan tudingan terkait dugaan penyadapan telepon yang dilakukan NoW.

Kepada koran the New York Times, Hoare mengatakan penyadapan dilakukan jauh lebih masif dari apa yang diakui oleh koran Inggris itu saat polisi pertama kali menggelar penyelidikan begitu mendengar ada laporan dugaan praktek bermasalah ini.

Seorang juru bicara kepolisian Inggris mengatakan kematian Hoare dinyatakan belum jelas penyebabnya namun tidak disebut mencurigakan.

Kepolisian wilayah Hertfordshire, London mengatakan jenazah Hoare ditemukan setelah polisi mendapat telepon agar datang ke rumahnya di Langley Road, pada Senin (18/7) waktu setempat. Polisi mengatakan kematiannya dinyatakan belum dapat dijelaskan, tapi tak ada yang mencurigakan. Polisi sedang menyelidiki insiden ini.

Hoare sebelumnya mengatakan kepada program Panorama BBC juga pada siaran Radio 4 BBC, bahwa praktek penyadapan telepon untuk mendapat berita marak dilakukan NoW.

Hoare juga menyebut editor NoW saat itu, Andy Coulson, pernah memintanya melakukan hal serupa, tuduhan ini ditolak Coulson. Read more »

Pages:12»