Mar 3, 2012 - Tilik Buku    30 Comments

Resimen Pelopor: Korps Elit Polri

“Hentikan tembakan,istirahat makan !!!”. Dua kubu yang yang bertempur menarik pelatuk. Mereka sepakat untuk genjatan senjata pada malam hari untuk makan, minum dan tidur. Ini adalah kisah fakta pada tahun 1960-an di Bangka Belitung yang dialami oleh Resimen Pelopor dalam memberangus anggota Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Anggota Resimen Pelopor yang merupakan pasuka elit Polri pada orde lama hingga dibubarkan pada tahun 1972 kaget dengan instruksi dua komandan masing-masing. Sebuah akhir kontak senjata yang aneh. (Hlm. 70).

Secara keseluruhan buku yang beredar pada awal Januari 2011 membongkar sejarah korps elit Polri pada awal revolusi yakni Resimen Pelopor. Pasukan elit Polri yang dibanggakan oleh Presiden Sukarno. Wal hasil, prajurit-prajurit muda memperoleh senjata tempur yang canggih.  Sebut saja senapan serbu AR 15 yang sangat ampuh dalam laga senjata. Karena keandalan itu, maka  senjata itu tetap dijinjing hingga Detasemen Khusus Alap-Alap yang merupakan re-grouping Resimen Pelopor digunakan dalam Operasi Seroja Timor-Timur pada tahun 1975.

Menyimak lembaran demi lembaran buku berkertas ringan ini, terkuat kisah Resimen Pelopor.  Ketika hiruk-pikuk mesin perang dan konfrontasi bersenjata masih meliputi air, udara, dan tanah serta usia republik masih seumur jagung, dari rahim Polri lahir sebuah pasukan khusus yang memiliki kemampuan dan keberanian menggetarkan. Sebuah pasukan yang dihormati oleh kawan dan disegani lawan yang bernama Korps Mobile Brigade (Mobbrig). Korps ini dibentuk pada tanggal 14 November 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Saat itu, Polri bertanggungjawab langsung terhadap Sutan Sjahrir. Kekuatan Mobbrig terus diperkuat untuk mengantisipasi pemberontak di daerah-daerah  yang pada umumnya dilakukan oleh prajurit TNI.

Buku yang terdiri dari 12 bab ini antara lain menuturkan  kisah dibalik sepak terjang Resimen Pelopor memberangus gerombolan DI/TII yang berkecamuk di Jawa Barat, Aceh, Sulawesi, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera, Pembebasan Irian Barat dan lain-lain. Tak lupa dikupas nama Resimen Pelopor yang mulanya bernama Ranger diubah oleh Sukarno yang tahun 1960-an anti dengan nama yang berbau kebaratan-kebaratan termasuk sebutan Ranger. Tak bisa dibantah lagi, impas dari politik mengalir ke mana-mana.

Demikian juga yang dialam oleb Mobbrig yang berganti nama menjadi Brigade Mobil (Brimob) pada 14 November 1961 yang disertai penyerahan tanda penghargaan Nugraha Sakanti Yana Utama. Sebuah penghargaan bagi koprs Brimob atas jasa-jasanya mempertahankan dan menumpas pemberontakan. Pemberian tanda jasa ini sekaligus menunjukkan  bahwa korps Brimob dan Pelopor dekat dengan Sukarno. Hasilnya, jenis senjata yang dipakai oleh Resimen Pelopor lebih unggul dari kesatuan lain.

Pada era keemasan, Resimen Pelopor merupakan mesin perang yang efektif dan efesien. Gambaran ideal pasukan khusus yaitu  berani, berkemampuan tinggi, efektif dan efesien menjalankan tugas. Di manapun diturunkan, di manapun ditugaskan, mereka memiliki semboyan bahwa itu adalah penugasan terahir sehingga memiliki semangat yang meluap-luap.

Buku sederhana ini tidak hanya menampilkan kesuksesan Resimen Pelopor dalam berbagai penugasan. Ada tragedi yang tidak diduga oleh siapa pun di Kuala Simpang Aceh Timur pada awal tahun 1960-an. Pagi berdarah ini dilakukan oleh anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang menyamar sebagai anggota Resimen Pelopor. Penyamaran yang dilakukan tidak tanggung-tanggung yakni menggunakan truk yang sudah dicat layaknya truk militer lengkap dengan Merah Putih. Seragam yang dipakai oleh anggota DI/TII pun sama dengan anggota Brimob lengkap denagn helm tempur. Seragam Brimob kala itu hamper menyerupai seragam TNI yakni hijau lebih muda. Petugas di pos penjagaan tidak menyangka bahwa truk yang lewat di depan hidungnya adalah musuh. Akibatnya, puluhan anggota Brimob Kompi 5116 yang bermarkas di Cipanas Bogor bersimbah darah. (hlm. 91-92).

Reputasi yang didapat pasukan ini bukan berasal dari serangkaian pencitraan. Bukan pula dari mitos yang diagungkan melalui berbagai media layaknya mitos-mitos pasukan khusus yang dihempuskan sekarang. Resimen Pelopor  meraih melalui rangkaian perjuangan panjang yang menuntut keuletan, keterampilan, ketabahan, ketahanan, keberanian, dan upaya yang terkadang melampaui kesanggupan manusia normal. Sebenarnya, hal-hal tersebut adalah biasa bagi prajurit mengingat harus siap diturunkan di berbagai medan. Yang membedakannya, atau yang membuat mereka layak diberi sandangan pasukan khusus adalah hasil dan kearifan mereka dalam menjalankan tugas.

Perjalanan waktu juga yang menenggelamkan kesatuan ini dalam palung terdalam. Pergantian penguasa, keberlangsungan pasukan ini pun berakhir. Kerja keras, pengorbanan, jasa, dan risalah mereka turut terkubur seolah-olah mereka tidak pernah ada. Ironis lagi, kehebatan sejak orde lama awal orde baru nyaris tak ditulis dalam sejarah dan hanya menjadi cerita pengantar tidur anak-anak, cucu, dan saudara terdekat para mantan anggota pasukan tersebut.

Inilah buku yang membeberkan prajurit hebat yang terlupakan dan nyaris tanpa sejarah. Buku ini disajikan berdasarkan wawancara, dan sumber-sumber lainnya. Itulah kemahiran penulis yang notabene seorang dosen ekonomi dan manajemen dan anggota TNI mendedah sepak terjang pasukan elit yang dmiliki oleh Polri.

Menelaah isi buku ini seperti kembali ke lorong-lorong waktu yang telah diukir oleh kesuma bangsa dengan segala keterbatasan sesuai dengan masa pada itu. Tidak berlebihan, buku ini patut dibaca oleh kalangan anggota Polri, sejarawan atau pengamat militer. Terbongkar kisah nyata yang tidak pernah terungkap seperti anak buah yang salah mengartikan kode ketipan mata atasannya. Akibatnya, tawanan ditembak ketika diperiksa.

Di sisi lain, penulis memuat foto-foto pasukan Resimen Pelopor dengan seragam loreng. Dengan demikian halaman demi halaman tidak terasa kering karena mata bisa sekejab beristirahat menikmati seragam-seragam tempo doeloe.

Selalu ada hal-hal yang baru yang bisa dicerna dalam buku ini walaupun tanpa indeks atau ketidakuratan menulis tahun peristiwa yang sering bergeser setahun.

Judul RESIMEN PELOPOR Pasukan Elit yang terlupakan
Penulis Anton Agus Setyawan & Andi M. Darlis
Tebal 253 + xiii halaman
Tahun Januari 2011
Penerbit  Matapadi Presindo, Yogyakarta

Judul RESIMEN PELOPOR Pasukan Elit yang terlupakanPenulis Anton Agus Setyawan & Andi M. DarlisTebal 253 + xiii halamanTahun Januari 2011Penerbit  Matapadi Presindo, Yogyakarta

30 Comments

  • Saya sudah baca buku itu.Isinya cukup bagus dan yang paling penting adalah, kisah perjuangan Menpor jangan sampai dilupakan oleh generasi muda bangsa ini. Menpor telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan bangsa.

    • bos ada reff or info buku ini msh tersedia di toko buku mana, sy cr di gramedia sdh tdk ada, lokasi sy skrg di Sukabumi-Jakarta, thanks info nya…

  • aku bangga ayahku seorang MENPOR

  • Bangsa dan kesatuan yang besar adalah bangsa dan satuan yang menghargai jasa para pendahulu nya , bukan menjadikannya kenangan tapi menjadikan tolak ukur untuk untuk masa depan satuan di bangsa tersebut … Smoga para pendahulu menpor selalu menyertai brimob di manapun berada … Dan smoga hati para pimpinan yg ad di satuan terhormat ini menjadi lebih perhatian pada satuan brimob dan lebih perhatian pada keadaan anggota nya , bukan hanya perkataan sj , dan tdk cuma numpang jabatan sj hanya untuk karir dan memperkaya diri sendiri … Maaf bila ad kata yg menyinggung tp demi solidnya satuan brimob yg kami banggakan ini … Insya Allah akan ad balasannya nti. AMIN

  • saya sedih bercampur haru gimana para pejuang2 pelopor mempertahankan nama besarnya,tapi pada zaman sekarang ini brimob pelopor hanya pelengkap saja yang saya alami saat ini para komandan hanya memakai tenaga anggota saja tidak memikirkan karir anggotanya saya kecewa mau berkarir dan sekolah mengambil sekolah perwira harus disamakan sama polisi umum harus membayar ratusan juta sementara dibrimob pelopor sendiri itu semboyan tiada hari tanpa latiahan dimana kami harus memebayar uang sampai ratusan juta tapi kata pimpinan hiduplah pada zamannya jadi tidak ada lagi kebanggan didada masing2 anggota brimob pelopor semoga para sesepuh tetap menjaga dan para pejuang brimob pelopor yang sudah gugur dimedan laga tidak akan kecewa dengan brimob masa depan atau millinium yang bahasa kerennya brimob pelopor masa kini.

  • Bro m faizal, klo disimak dr bahasa anda, seolah2 polisi umum G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ da spesialnya sama sekali, ingat bro, kami juga tiap hari harus bersinggungan dengan masyarakat,menerima cacian dan makian, peralatan yg kami sandang juga jauh di bawah level brimob, tp kita sama2 menjadi korban komandan masing2. Jd saya rasa G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ etis sodara menuliskan ” tidak memikirkan karir anggotanya
    saya kecewa mau berkarir dan sekolah
    mengambil sekolah perwira harus disamakan
    sama polisi umum harus membayar ratusan juta
    sementara dibrimob pelopor sendiri itu
    semboyan tiada hari tanpa latiahan” , cobalah anda cermati baik2, penugasan BKO kami juga sama dengan anda. Demikian .. Bravo polri

  • bagusss bangeeetttttt,,,,,,!!!!

  • semangaatttt,,teruskan perjuangan pendahulumu,,

  • Kalo ngeliat brimob sekarang.. Ngenes banyak kena masalah.. dari narkoba pencurian.. Mukin masalah ekomomi.. Tapi harusnya.. Pemerintah jg harus melek kesejahteraan pasukan.. Jgn pns aja yg dimanja.. Intinya gaji brimob harus lebih besar dari polisi biasa.. Biar ga mikir macem2 karna merasa aman dari finansial..

  • Kita hidup pada zaman yg berbeda,MENPOR dgn kekuatanx harus diakui tapi itu cerita klasik,hax menyisakan kebanggaan semu buat kami……skarang tak ada lagi yg layak menjadi panutan buat Brimob,pimpinan sibuk mencari jabatan,memperkaya diri,..anggota ditelantarkan….tahun2 kmarin sih ada yg bisa jadi pedoman buat profile brimob yg memegang idealisme kuat yaitu Jenderal Jusuf Manggabarani,tp sayang beliau sdh pensiun…

    • Saya Bangga dengan Brimob sampai sekarang….cuma Saya kecewa Sama Salah Satu Pimpinan yang Pikirannya Masih Bocah…..Saya Beberapa Kali Operasi di Nad Sampai Tsunami juga di sana…..Saat ini Kebanyakan Pimpinan Yang memikirkan dirinya sendiri….mereka Hanya mikir Setoran saja…. Pemimpin Yang Saya Banggakan Adalah Sosok Jenderal Yusuf Manggabarani dialah sosok pimpinan yang Disiplin Berani dan Bertanggung Jawab …Seandainya Beliu Masih Mimpin mungkin Saya masih di Brimob….walaupun saya sudah Ex brimob Tapi Saya Tetap Bangga dengan Resimen Pelopor Klp Dua…..Salam buat Rekan2 dan mantan Anak buah Saya semoga Kalian sukses Di sana…. Salam Buat Kompi Pemburu Gab Resimen III 2002 Team Petir….Salam BRIGADE…

  • saLuuuT hoRmat dua tanGan unTuK sEmua,,,

  • Love u Ranger …..Best regard From : Kompi 1Den B PRAJAHITA
    BRIMOB MALUKU

  • Selamat siang komandan!! sy akan meneruskan perjuangan MENPOR di masa sekarang!! MENPOR akan selalu terkenang di jiwa kami,anggota SAT 1 GEGANA Kelapa Dua!! Bripda Bagus Setyo.

  • I like…..

  • Tahun 1963, Ayahku R. Widodo joewono masuk pendidikan brimob yg pd waktu itu berlokasi di lido. 5x berngkat ke malaya (konfrontasi malaysia). Bnyk sudah kisah membanggakan yg keluar dari mulut almarhum sewaktu msh di menpor. Saya bangga sbagai putra prajurit bhayangkara.. Jaya selalu utk BRIMOB

  • Kami anggota brimob masa depan bangga dgn sesupu kami….
    Jayalah PELOPOR

  • Salut buat rekan2 dengan keahlian masing2 semuanya demi negara, baik itu brimob, reserse, lantas, intel, ataupun airud semuanya mempunyai resiko masing2 dan kadang pekerjaan kita dekat dgn kematian , yang terpenting dimanapun rekan2 bertugas tetap semangat , torehkan tinta emas untuk masa depan bangsa … Amin

  • [...] ini walaupun tanpa indeks atau ketidakuratan menulis tahun peristiwa yang sering bergeser setahun. (bondan) Judul:  RESIMEN PELOPOR Pasukan Elit yang terlupakan; Penulis:  Anton Agus Setyawan & Andi [...]

  • Kurangnya perhatian dari Pimpinan Polri kepada para Sesepuh Brimob dalam hal ini para Veteran Brimob yang sudah mempertaruhkan Jiwa Raga nya Demi keutuhan Negara dan mengharumkan Institusi Polri pada umumnya / khususnya Brimob. hm… saya pribadi hanya bisa tersenyum melihat kenyataan ini.para Veteran tidak gila Hormat tapi para Veteran hanya butuh perhatian,apa lagi para veteran yang menerima penghargaan berupa Bintang Sakti yang notabene Penghargaan tertinggi di Militer yang di berikan oleh Presiden Soekarno.

  • Kurangnya perhatian dari Pimpinan Polri kepada para Sesepuh Brimob dalam hal ini para Veteran Brimob yang sudah mempertaruhkan Jiwa Raga nya Demi keutuhan Negara dan mengharumkan Institusi Polri pada umumnya / khususnya Brimob. hm… saya pribadi hanya bisa tersenyum melihat kenyataan ini.para Veteran tidak gila Hormat tapi para Veteran hanya butuh perhatian,apa lagi para veteran yang menerima penghargaan berupa Bintang Sakti yang notabene Penghargaan tertinggi di Militer yang di berikan oleh Presiden Soekarno.

    Salam Hangat dari Orang Tua kami ( Para Veteran Pembela Kemerdekaan ) Ex Ranger pie 5994 Kelapa Dua untuk seluruh Personil Brimob yang ada di NKRI.

  • Prajurit dgn kualifikasi rnager tidak kalah dgn pasukan komando bahkan tehnik anti gerilya nya dahsyat……kami bangga sebagai putra putri resimen pelopor…bravo resimen pelopor

  • buku yg sangat banyak manfaatnya apalagi klo para bhayangkara saat ini membacanya, sehingga minimal mereka tau bagaimana solidnya polri dahulu tdk seperti sekarang yg lebih mengutamakan egoisme pribadi tanpa mengutamakan jiwa korsa.

  • jayalah menpor,
    salam dari “BRIMOB POSO”

  • jayalah menpor…
    salam dari “BRIMOB POSO”

  • bisa saya katakan bahwa pengabdian yang tulus tak pernah meminta untuk dikenang, hanya mencari keridoan tuhanY. amin

  • Saya dari polisi umum.tapi saya bangga dan sangat bangga malah.dengan brimob.di brimob lebih bersih kkn dan lebih kompak setia pada korps.hirarki nya juga sangat kental. Smentara di umum tidak seindah dulu lagi. Hidup dik tuk ba” hidup brimob” hidup pelopor”"

  • Salam Hangat dari kami keluarga besar putra putri ex MOBRIG / BRIMOB Kompi 5112, 5135 & 51.. Resimen III YON BRIGIF 309 & foto ayahanda kami berdiri bersenjata sebelah kanan atas terpampang di cover buku “Resimen Pelopor Pasukan Elit Yang Terlupakan” Jayalah BRMOB Mantap NKRI Harga Mati.

  • Salam Hangat & Hormat,
    Benar adanya karena kondisi, riwayat seorang Rengers sejati dari awal dbentuknya RESIMEN MOBRIG RENGERS ( personil gabungan daerah dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi + Maluku & Nusa Tenggara Timur Kompi tersebut dibentuk di Watukosek Banyu Biru ) langsung menunaikan tugas Negara “GOM” turus menerus tanpa henti (-+ 15 thn) menjadi Rengers Combatan sampai pada tahun 1972 dibubarkan / di BS kan, tp saat Operasi Seroja juga ditugaskan kembali 1975 – 1990 bergantian bertugas dengan masa tugas masing-masing mendapat bagian tugas selama 2 tahunan.
    RENGERS MOBRIG/BRIMOB dengan seragam yg dikenakan saja, senjata dgn peluru yg terbatas walau sering macet saat digunakan, geranat nanas yang sering dijemur amunisinya yg sering mlempem, sebilah pisau sangkur, korek api dari kayu, harus bisa bertahan hidup & selalu siap saat di medan pertempuran, berjalan kaki tanpa ujung dipecah menjadi pleton-pleton kecil Combatan / Pasukan Penggerak untuk menggerakan Kompi-kompi TNI NKRI, penerjunan tanpa dibekali parasut dijatuhkan di laut tanpa pelampung harus berenang hingga ke pantai utk melakukan operasi RENGER COMBATAN dalam segala medan dengan ketabahan dalam segala kesulitan.
    Itu riwayatnya dulu Resimen MOBRIG / BRIMOB RENGER COMBATAN (lain dulu, lain sekarang).
    Jayalah selalu Resimen Pelopor yang terlupakan, tugas dr penerus BRIMOB jadikan tauladan perjuangan pendahulunya yg memiliki semangat baja pantang menyerah janji melati suci “PANCASILA & UUD 1945 / NKRI HARGA MATI”

    Salam dari kami keluarga besar putra putri ex MOBRIG / BRIMOB Kompi 5112, 5135 & 51.. Resimen III RENGERS YON BRIGIF 309 (1950-1972) yang terlupakan.

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!