Mar 3, 2012 - Tilik Sandi, X File    No Comments

Dinasty ‘Opium’ Sassoon

David Sassoon

Dalam pelajaran sejarah kita pasti sudah pernah mendengar peristiwa Perang Candu di Cina. Tapi saya jamin, kita tidak pernah mendapat gambaran sebenarnya mengenai peristiwa tersebut dari para guru sejarah kita. Para guru sejarah kita hanya mengajarkan tentang kapan peristiwa itu terjadi dan siapa tokoh-tokoh yang terlibat dengan “tokoh besar”-nya yang tersembunyi. Tidak lain karena memang, sejarah telah diselewengkan dan dimanipulasi oleh “kekuatan yang tidak dipahami” oleh sebagian besar umat manusia.

Keberadaan Hongkong tidak bisa lepas dari sosok bernama David Sassoon, keturunan Yahudi kelahiran Baghdad tahun 1792. Ia putra dari Saleh Sassoon, seorang bankir kaya yang ditunjuk sebagai bendahara oleh Gubernur Baghdad Ahmed Pasha. Setelah Ahmed dipecat dari jabatannya karena korupsi pada tahun 1829, keluarga Sassoon segera pindah ke Bombay, India, kota perdagangan yang strategis yang menghubungkan India dengan kawasan Timur Jauh.

Dengan pengaruh kekayaannya, Sassoon segera mendapatkan hak monopoli perdagangan kain, sutra, dan yang terpenting, opium atau candu olahan. Kala itu opium adalah zat paling adiktif di dunia.

“Jewish Encyclopedia th 1905″ mencatat bahwa Sassoon melebarkan perdagangan candunya dari India ke Cina dan Jepang. Ia menempatkan ke-8 putra-putranya pada jabatan-jabatan perusahaan yang ditanganinya, terutama di Cina. Selanjutnya “Jewish Encyclopedia” tahun 1944 menyebutkan Sasson hanya mempekerjakan orang-orang Yahudi, dan di mana pun usahanya berada ia menyuruh mendirikan sinagog dan sekolah yahudi. “Ia menghimpun seluruh keluarga Yahudi dan mempekerjakannya,” tulis “Jewish Encyclopedia”.

Putra-putra Sassons pun sibuk menjejalkan zat paling menghancurkan akal ini ke Kanton, Cina. Antara tahun 1830 dan 1831 mereka menjual 18.956 chest opium, menghasilkan jutaan poundsterling uang ke perbendaharaan mereka. Sebagian keuntungan tentu saja mengalir ke istana Inggris (kala itu dipimpin oleh Ratu Victoria) dan pemerintahan kolonial Inggris di Asia. Pada tahun 1836 penjualan meningkat hingga 30.000 chest dan pantai timur daratan Cina berubah menjadi endemik penyakit kecanduan opium.

Pada tahun 1839 kaisar dinasti Manchu di Cina memerintahkan penghentian perdagangan opium di wilayah Cina dan mengangkat Komisioner Canton, Lin Tse-hsu, untuk memimpin upaya tersebut. Lin segera menahan 2.000 chest milik Sassoon dan menenggelamkannya ke sungai.

David Sassoon yang marah langsung meminta pemerintah Inggris untuk membalas aksi tersebut. Maka Perang Candu pun terjadi setelah Inggris mengerahkan pasukannya untuk memulihkan perdagangan opium Sassons. Mereka menyerang kota-kota dan memblokade pelabuhan-pelabuhan Cina. Tentara Cina yang sebagian besar telah menderita kecanduan opium, tidak mampu menghadapi tentara Inggris dan mereka pun menyerah tidak lama kemudian. Perang secara resmi berakhir setelah ditandatangani Perjanjian Nanking tahun 1839. Namun tentu saja “pemenang mengambil semuanya”. Untuk menjamin kelangsungan bisnis opium Sassons syarat-syarat perdamaian telah ditentukan Inggris, meliputi:

1. Legalisasi perdagangan opium di Cina.
2. Ganti rugi opium yang dirampas Cina senilai 2 juta pound.
3. Pengakuan atas kedaulatan Inggris pada 200 pulau di lepas pantai Cina.

Namun bahkan itu semua masih belum memuaskan Inggris. PM Palmerston meminta Crown Commissiner Captain Charles Elliot yang mengepalai pasukan ekspedisi Inggris untuk mengabaikan point-point kesepakatan itu. Tulisnya kepada Elliot: “Karena angkatan laut kita sedemikian kuat sehingga kita bisa menentukan “apa yang kita minta” daripada “apa yang bisa diberikan” kaisar Cina.” Maka selanjutnya Cina tidak hanya harus mengganti kerugian 2 juta pound, melainkan 21 juta pound, yaitu seluruh biaya perang yang dikeluarkan Inggris.

Setelah perjanjian itu Sasson pun semakin merajalela. Namun ia tidak pernah puas. Selanjutnya ia menuntut hak untuk menjual opium ke seluruh daratan Cina. Sama saja dengan menghancurkan bangsa dan negara sendiri, kaisar pun menolak mentah-mentah, dan Inggris kembali mengirimkan tentaranya untuk menyerbu Cina dalam apa yang kemudian tercatat sebagai Perang Candu II antara tahun 1858 sampai 1860. Bahkan ketika perang masih berkobar, PM Palmerston mendeklarasikan seluruh Cina sebagai kawasan bebas perdagangan opium. Pada tahun 1859 Inggris untuk pertama kalinya mengalami kekalahan dalam perang memperebutkan Benteng Taku, saat pasukan yang diperintahkan menguasai benteng tersebut terperangkap dalam kubangan lumpur. Ratusan tentara Inggris tewas dan tertawan.

“Kita akan memberi pelajaran pada para penunggang kuda itu hingga sebutan “Eropa” akan menjadi momok yang menakutkan mereka!” kata Palmerston setelah mendengar kabar kekalahan tersebut.

Pada bulan Oktober Inggris mengepung ibukota Cina, Peking. Ketika akhirnya kota itu menyerah, pasukan Inggris menghancurkan kota tersebut dan membakari biara-biara dan shao-lin sebagai “terapi kejut”.

Dalam “Perjanjian Damai” baru tgl 25 Oktober 1860, Inggris, maksudnya keluarga Sassons, mendapat hak untuk memperdagangkan opiumnya ke seluruh daratan Cina kecuali tempat-tempat tertentu yang dilarang. Pada tahun 1864 saja omset perdagangan opium Sassons di Cina mencapai nilai 20 juta pound. Pada tahun itu Sassons menjual 58.681 chest opium. Pada tahun 1880 jumlahnya bahkan mencapai 105,508 chest, membuat keluarga Sassoons sebagai orang terkaya di dunia, hanya dikalahkan oleh keluarga Rothschild, keluarga yahudi lainnya yang terlebih dahulu menangguk untung dari bisnis lintah darat. Namun meski Inggris memberi keleluasaan besar pada Sassons untuk menebarkan opium ke Cina dan kawasan Asia lainnya (pada masa itu wabah candu juga melanda wilayah Hindia Belanda, tentu saja karena jasa Sassons), Inggris melarang opium diperjual belikan di Eropa.

Monopoli Sassons atas industri tektil juga menghancurkan industri tekstil Inggris sembari memberi keuntungan besar bagi rekan yahudinya di Amerika, Rossevelt. Sir Albert Sassoon, putra tertua David Sassoon yang menggantikan ayahnya sebagai pimpinan bisnis keluarga Sassons membangun industri tekstil besar-besaran di Bombay, India. Terbantu oleh upah buruh yang murah, nyaris seperti upah kerja paksa, industri tekstil Sassons menguasai pasar tekstil dunia. Di sisi lain industri tekstil Inggris, penemu mesin pemintal dan kampiun revolusi industri dunia, gulung tikar. Ribuan buruh tekstil Inggris kehilangan pekerjaan setelah pabrik-pabrik tekstil di Lancashire bangkrut. Namun itu tidak menghalangi Ratu Victoria untuk memberi gelar bangsawan kepada keluarga Sasson pada tahun 1872.

Sementara itu Solomon Sassoon pindah ke Hong Kong untuk memimpin bisnis keluarganya di sana hingga meninggal tahun 1894. Selanjutnya seluruh keluarga Sassons pindah ke Inggris setelah teknologi komunikasi memungkinkan mereka menjalankan bisnisnya dari jauh, sembari membangun hubungan yang lebih dekat dengan keluarga kerajaan Inggris.

Pada tahun 1887 dua keluarga terkaya di dunia, Sassons dan Rothschild, mengikatkan hubungan mereka dengan tali perkawinan antara Edward Albert Sassoon dengan Aline Caroline de Rothschild. Seluruh anggota keluarga Sassons yang berjumlah 14 orang kemudian menjadi perwira militer Inggris selama PD I, memungkinkan mereka menghidar dari medan perang.

Franklin D. Roosevelt, presiden Amerika, mendapatkan keuntungannya dari kakeknya dari jalur ibu, Warren Delano, yang pada tahun 1830 menjadi partner senior perusahaan perkapalan Russell & Company yang mengangkut opium milik Sassoon ke Cina dan kembalinya membawa teh. Warren Delano selanjutnya pindah ke New York. Pada tahun 1851 putrinya, Sara, menikah dengan tetangganya, James Roosevelt, ayah dari bakal presiden Franklin Delano Roosevelt.

Bisnis opium Sassons masih terus berlangsung hingga kini, menghancurkan mental dan fisik jutaan orang di Asia. Namun hal itu seakan tersembunyi di balik tirai gelap. Bahkan saat media massa ramai-ramai memberitakan penyerahan Hongkong kepada Cina tahun 1999, nama Sassons tidak pernah disebut-sebut.

Sumber: Hong Kong and the Land Built on Opium

Catatan dari saya:
Anda tidak akan pernah menyaksikan film tentang Perang Candu yang dibintangi oleh Jet Lee ataupun Jacky Chen. Dan buang jauh-jauh ide tentang Triad, Yakuza ataupun Mafioso Italia sebagai penguasa bisnis obat-obatan terlarang. Mereka hanya operator lapangan dari Mossad, CIA dan M-16, yang pada akhirnya bekerja untuk keluarga Sassons.

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!