Filsuf itu bernama Pohon

February 21st, 2012 § 2 comments

Dalam buku The Tree of Philosophy, Stephen Palmquist berusaha mempertanyakan mitos-mitos, ia mengatakan bahwa semua orang yang berakal sehat dapat mempelajari filsafat dan bahkan mampu berfilsafat. Dengan demikian, apakah Palmquist menyarankan agar kita membabat habis segala mitos? Sama sekali tidak. Ia justru  menyatakan ada beberapa mitos yang tidak bisa dilenyapkan. Bahkan, filsafat membutuhkan mitos. Ada banyak mitos yang memiliki potensi yang dahsyat. Apabila dibudidayakan dengan baik, mitos itu dapat memberi hasil positif. Semisal, mitos bahwa filsafat itu laksana pohon.

Yup. Dalam tulisan ini saya tidak membahas buku The Tree of Philosophy. Saya ingin menyampaikan bahwa semakin tinggi pohon, maka semakin jauhlah daun dari akarnya. Bahwa memang dedaunan sebagai elemen kehidupan dibatasi oleh siklus usia sebagai penampung dan penampang seluruh silsilah si pohon. Dedaunan pula yang mencatat kisah sejarah si pohon dalam guratan guratan batangnya. Akar ada sejak sebermulanya kehidupan, dia pula yang menjadikan dedaunan yang merepresentasikan sebuah pohon. Daun tak lebih hanya muncul berbentuk kuncup, lalu hijau berjaya, kemudian perlahan menua, kuning dan akhirnya luruh ke tanah, kembali kepada akar yang sebenarnya ketika usia tak lagi membutuhkannya. Nasib daun tidaklah lebih baik dari batang apalagi akar. Terkadang ia terombang ambing dalam arus angin tak menentu, bahkan terkadang patah layu bersama ranting yang menyerah oleh derasnya angin nasib.
Maka semakin tinggi tingkat kehidupan seseorang, pada umumnyapun akan semakin jauh dari akar yang membuatnya menjadi ada dan tempatnya berada. Nilai nilai kesahajaan sering membias bersama dengan pola dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh pikiran pikiran hedonis. Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya, yang mengukur kejayaan dari segi segi yang dapat dihitung dalam bentuk angka angka. Jangankan pada akarnya yang menjadikannya ada, pada kepastian siklusnyapun terkadang orang menjadi sombong dan pelupa.

Pada ketinggian tingkat daun, angin segar dan langit membentang tak terbataskan garis apalagi dinding menjadi seakan kepemilikan atas kekuasaannya yang abadi. Seluruh kehidupan seolah menyoraki dan menyokong segala yang diperlukan untuk menyenangkan nafsu duniawi. Kaki kaki kesadaran nurani menjuntai tak menyentuh tanah kenyataan, apalagi mengecap becek dan kotornya lumpur dan debu dunia milik sang akar. Daun daun mati yang berserak tak lebih hanya akan menjadi gizi bagi daun daun lain di generasi lain, tak memberi makna apa apa bagi pohon dan akar. Ketika hidup berjaya, terkadang bahkan makna pertemananpun sering diukur dengan pasal pasal pengatur peradaban.

Sungguh malang mereka yang miskin akan kekayaan nurani, meskipun hidup dalam gelimang kemudahan karena materi. Mereka menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan menjadi nyaman di kehidupan maya, kehidupan semu yang diciptakan demi melindungi kesenangan yang mampu terbeli. Kebiasaan pamer dan juga tidak peka terhadap perasaan orang disekeliling sesunggunya telah mematahkan anak anak tangga yang didaki dulu, dan karena sombongya menganggap takkan memerlukan anak anak tangga itu lagi. Ah, hidup itu hanya siklus. Sesuai hukum alam, bahwa segala sesuatu yang naik pastilah akan turun lagi. Bukankah akan bijaksana jika kita tetap memelihara anak anak tangga yang membantu kita mencapai puncak, untuk suatu saat nanti kita injak lagi jika tiba saatnya kita harus turun? Sebagian kita memilih jatuh terbanting dari ketinggian, menjelempah bagai sampah karena gravitasi yang diingkari justru dari tempat tinggi.

Memuja angin sama saja memuja ketiadaan, sedangkan langit yang tampak kosong tak selamanya berisi kehampaan. Segala yang hidup pasti akan mati, dan semua yang berwujud dimuka bumi tidaklah kekal. Pamer, sombong, congkak dan mati rasa sesungguhnya hanya akan menjerumuskan kita kepada perasaan antipati serta menebar benih benih kebencian yang pada saatnya kita terjatuh akan menjelma menjadi tepuk tangan yang meriah dari mereka yang berbahagia atas kejatuhan kita.

§ 2 Responses to Filsuf itu bernama Pohon"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Filsuf itu bernama Pohon at Mawar Merah.

meta