Feb 1, 2012 - Tilik Buku    3 Comments

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Ditengah gejolak ‘ramalan’ Permadi, perhatian saya tersedot oleh sebuah novel karangan Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Saya pun mencuri waktu untuk membaca novel yang dirangkai dengan kata-kata indah.

Ini pertama kalinya saya membaca novel karya Tere Liye. Dan setelah membaca halaman demi halaman, saya langsung suka dengan gaya menulis Tere Liye. Cerita novelnya sendiri sederhana, tentang seorang anak perempuan bernama Tania, dan keluarganya yang ditolong oleh seorang pemuda dermawan bernama Danar. Sikap Danar yang baik dan hangat yang kemudian membuat Tania menaruh hati pada lelaki yang berpaut usia cukup jauh dengannya.

Novel itu bercerita dari setting waktu 20.00-09.00. Waktu yang singkat bukan? Namun Tere dengan lincah dan cerdasnya bisa merangkum sejarah 10 tahun lebih yang lalu. Namun entah kenapa dengan novel ini saya ‘tidak terhanyut’.  Mungkin, masalah penokohan Danar sebagai lelaki yang kelihatan sangat melankolik dan lembut sekali. Hampir tidak ada konflik dan emosi yang berarti yang ditunjukkan Danar sepanjang novel. Jadi mikir, dalam kehidupan nyata, orang yang kayak gini ada nggak ya? But, saya juga selalu melihat novel dari cara penulis menyampaikan ceritanya. Untuk yang satu ini, saya cukup terkesan dengan permainan kata yang dibawakan Tere Liye. Bahasanya sederhana tapi menyentuh, ringan dan manis. Mungkin, akan baca novel Tere Liye yang lainnya setelah ini. Yang pasti, novel setebal 256 ini, saya menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam. Ada yang dapat di ambil hikmahnya dalam novel ini. 

Yakni semangat seorang Tania yang berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menuruti kata-kata malaikat penolongnya. Coba saja jika kita yang berjanji pada diri sendiri untuk selalu menuruti firman Alloh akan perintahNya, bukankah dunia akan terasa indah? Pelajaran kedua yang bisa saya petik, berharap pada manusia pasti berujung pada sia-sia. Tania yang sejak kecil mengagumi malaikatnya, berujung pada cinta yang membuatnya berharap menjadi seseorang yang mempunyai posisi khusus dalam hati malaikatnya. Namun sayangnya, malaikatnya menikah dengan gadis lain dan itu membuat perubahan hidup yang besar dalam diri seorang Tania (untuk jelasnya bisa dibaca sendiri ya? hee hee

Untuk sedikit hiburan namun sarat akan makna (setelah penat mengikuti rutinitas), bisa dibaca. Jika tidak ada budget untuk membeli novelnya. Sedikit kutipan dari novel tersebut :

“Kak, kenapa angka nol itu harus seperti donat? Dede bisa saja menulisnya dengan bentuk lain kan, seperti segitiga? Memangnya ada yang melarang?”
— Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, halaman 43

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

— Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, halaman 184

Walau bagiku ini kurang greget dibanding novel-novel sebelumnya yang sudah saya baca, tetep two thums up for him deh..met baca… ;)

3 Comments

  • wahhh, menali malah tertinggal satu langkah darimu, jujur tiap kali menali ke gramedia selalu melihat buku-buku karya Tere, tapi entah kenapa menali tidak pernah tertarik sama sekali. biasa menali selalu membeli buku yang memang penulisnya sudah menali gandrungi, atau membeli buku yang sudah menali baca resensinya dari iklan2 di blog penjual buku.

    sepertinya bener katamu, yang ini kurang greget :D

    • novel tersebut adalah bonus dari mbak Truly :D Menali. Saya pun demikian seringkali melihat karya Tere dan kalap jika melihat timbunan buku di toko buku ;) Semoga saja mawar merah menjadi wadah untuk mendapatkan buntelan #tutupwajahsendiri# bukan takut tapi malu :D

  • hehe…tutup aja terus wajahnya, toh menali dah liat kelopak mawarmu :P

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!