Aug 21, 2011 - Catatan Kaki    11 Comments

Fakta ‘Kesultanan Majapahit’ Yang Tersembunyi

Menegok kembali ke dalam beberapa materi ajar sejarah yang diberikan kepada generasi muda Indonesia, dari pendidikan dasar hingga bangku perkuliahan, barangkali akan membuat kita terhenyak dan terheran-heran. Sejumlah fakta atau bahkan opini terkadang hanya ditampilkan sekilas, sehingga tidak jarang membentuk persepsi yang salah terhadap substansinya. Pemaparan fakta yang bersifat demikian sudah tentu akan membuka ruang bagi kesalahan penafsiran. Sejarah, bisa jadi, memang berasal dari fakta tunggal yang kemudian ditafsirkan dengan menggunakan berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan berbagai penafsiran berbeda. Namun memaparkan fakta secara sekilas dan memberi ruang bagi kesalahan penafsiran juga merupakan hal yang musti dihindari.

Sebut saja, misalnya, informasi bahwa Majapahit runtuh karena terjadinya penyerbuan tentara Islam ke pusat Majapahit. Kisah ini dicatat dalam Serat Babad Tanah Jawi, Serat Dharmagandul dan kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong. Catatan kejatuhan Majapahit di Dharmagandul bahkan begitu melimpah. Kedua pujangga serat tersebut sepakat menunjuk tahun 1400 Saka (1478 M) sebagai tahun terakhir dinasti Majapahit. Namun dalam kenyataannya, tahun kejatuhan Majapahit seperti yang diceritakan para pujangga serat tersebut keliru. Tahun 1400 Saka bukan tahun kejatuhan Majapahit.

Pada tahun 1486 Ranawijaya mengeluarkan prasasti Jiyu tentang pengesahan anugerah kepada Sri Brahmaraja Ganggadhara berupa tanah Trailokyapuri. Pengesahan ini dilakukan bersamaan dengan upacara Sraddha untuk memperingati 12 tahun meninggalnya Bhatara Mokteng Dahanapura, atau “Baginda yang meninggal di Daha”. Prasasti itu menunjukkan bila Majapahit masih berdiri.

Kisah ini menunjukkan ketiga catatan diatas tidak valid. Dalam penelitian sesuai kaidah ilmu sastra dan sejarah pada buku ini, ketidakvalidan data tersebut ternyata disengaja. Ini yang belum menjadi pembahasan dipandangan Slamet Muljana.  Ketiga data tersebut ternyata bermuara pada satu sumber yaitu Serat Babad Tanah Jawi. Semua teks yang bermuara pada Babad Tanah Jawi, tidak dapat dijadikan data apa adanya, tanpa melalui kajian teks, karena penulisan Babad Tanah Jawi, dilingkupi dengan perlambang.

Pujangga Babad Tanah Jawi ternyata membaca ulang berakhirnya catatan Majapahit di Pararaton. Sirna Ilang Kertaning Bhumi (hilang lenyap kemakmuran dunia) sebagai candrasengkala (rumusan tahun dengan kata-kata, dimana setiap kata melambangkan angka, dibaca dari depan dan ditafsirkan dari belakang) yang berarti tahun 1400 S. Candrasengkala di Pararaton adalah Sunya Nora Yuganing Wong (Kosong Tanpa Anak Manusia). Ternyata candrasengkala di Pararaton tidak untuk merujuk tahun kejatuhan Majapahit. Maksud Pararaton hanya akan mengatakan bahwa tidak ada putra raja saat raja Majapahit meninggal.

Informasi Pararaton, ternyata memiliki kesamaan dengan informasi Hikayat Hang Tuah. Pada Hikayat Hang Tuah disebutkan bahwa karena tidak ada putra pengganti raja Majapahit, cucu raja Majapahit dari putri tertuanya yang dinikahi oleh Raja Malaka dirajakan di Majapahit. Cucu itu bernama Radin Bahar.

Pembacaan ulang pujangga Babad Tanah Jawi kiranya tidak berhenti hingga disini. Ia men-Cina-kan tokoh Radin Bahar atau Ranawijaya tersebut. Tujuannya agar pendiri Mataram yaitu Senapati yang menurut Trunajaya sebagai petani karena tidak memiliki darah raja terangkat statusnya dan lebih berhak untuk berkuasa daripada leluhur Demak. Demikian pula dengan keturunannya. Pujangga Babad Tanah Jawi kemudian menghubungkan leluhur rajanya dengan Putri Wandan yang konon dinikahi Raja Brawijaya V sekalipun hanya sekali. Putri ini dikisahkan tidak ditrimankan (atau dibuang) sebagaimana Putri Cina leluhur para Sultan Demak.

Kisah Perang Sudarma Wisuta atau perang antara ayah melawan anak, yaitu Brawijaya V melawan Raden Patah yang terus mendapat pro dan kontra di dua kubu yang berbeda di masyarakat Jawa tenyata hanyalah permainan politik pada masa lalu. Ada yang bermain dari politik pertentangan tersebut. Dan yang bermain dalam pertentangan tersebut adalah Mataram. Mataram mengelola issue pertentangan antara kaum abangan dan kaum putihan (untuk merujuk Islam) demi kepentingan kelangsungan kekuasaannya yang tidak berasal dari garis raja yang sah. Pengelolaan issue dalam pemerintahan oleh Mataram tersebut, sayangnya kini juga dilakukan pemerintah saat ini.

Layak untuk disepakati jika seorang sejarawan berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.

Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal Herman Sinung Janutama,  ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Yang Tersembunyi’, LJKP Pangurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta. Edisi Terbatas Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Yogyakarta Juli 2010.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta [hingga saat ini, saya belum mendapatkan buku tersebut :( ]. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.

Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.

Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1.     Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.

2.    Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3.    Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4.    Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.

Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5.    Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.

Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 M yang berarti saat Rasulullah SAW masih hidup di Jazirah Arab. Buktinya adalah sebuah kota kecil di pesisir Barat Sumatera Utara, Barat daya Medan, bernama Barus. Sampai sekarang, sejarah mencatat jika Barus adalah kota tertua di Nusantara. Barus adalah kota internasional yang sejak zaman sebelum masehi, sebelum Nabi Isa a.s. lahir, diketahui telah mengekspor kapur wangi (kapur Barus) ke Mesir untuk digunakan sebagai bahan pembalseman mumi para raja dan pangeran Mesir (Firaun).

Sedangkan Majapahit baru berdiri di akhir abad ke-13 M, dengan meruntuhkan Kerajaan Singosari, yang berarti enam abad setelah Islam menyinari Nusantara.

Walau Islam telah menyinari Barus diabad ke-7 M, namun catatan Islam tertua di Tanah Jawa sampai hari ini masih merujuk pada batu nisan Fatimah Binti Maimun yang ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur, pada 1082. Sejumlah petilasan di pusat kerajaan Majapahit, Trowulan, juga telah ditulis dalam bahasa Arab (SQ. Fatini: Islam Comes to Malaysia; Singapore, MSRI, 1963).

Menurut catatan indonesianis asal Monash University- Australia, MC. Ricklefs dalam “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (h.30-31) disebutkan jika batu nisan Trowulan terdapat angka pahatan 1368. ”Batu nisan ini berhias ayat-ayat Qur’an… Batu-batu Jawa Timur itu mengesankan bahwa beberapa elit Jawa telah memeluk Islam pada saat kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha itu sedang jaya-jayanya.” Ricklefs juga menulis, “…sudah ada bangsawan-bangsawan yang beragama Islam di istana Majapahit pada abad XIV” (h.37). Kerajaan Majapahit berdiri pada tanggal 10 November 1293 saat Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan nama resmi Prabu Kertarajasa Jayawardhana.

Ronggolawe sendiri adalah orang yang sangat berjasa di dalam berdirinya Majapahit. Namun oleh pembesar Majapahit, akibat fitnah yang dilancarkan Mahapatih Halayudha, Ronggolawe yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan—sebab itu dia menolak pengangkatan Nambi yang dianggapnya tidak lebih berjasa ketimbang beberapa rekannya sebagai salah satu pembesar kerajaan, dianggap sebagai pemberontak dan diperangi.

Tuban sejak sebelum Majapahit berdiri merupakan kota pelabuhan di mana semua pedagang dari berbagai negara dan agama bertemu. Islam telah bersinar di Tuban sejak lama. Sebab itu jika dikatakan adakah orang-orang Islam yang menjadi pengikut Ronggolawe, maka hal itu bukan kemustahilan. Apalagi di masyarakat Tuban telah lama tertanam adanya kisah tentang Brandal Lokajaya yang kemudian menjadi Sunan Kalijaga, salah seorang penyebar Islam di Tanah Jawa.

Dan adakah orang-orang Islam yang menjadi anggota pasukan kerajaan Majapahit? Ini juga bukan kemustahilan mengingat sejarawan Ricklefs berkeyakinan jika sebagian pembesar dan bangsawan Majapahit telah memeluk Islam ketika Majapahit masih berdiri.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab.

11 Comments

  • Interesting sekali

    Gimana mbak sudah dapat bukunya?

  • ngakak bacanya…
    lalu candi2 peninggalan majapahit itu candi islam ya?

    kalau tulisan ilmiah itu harus didukung fakta ilmiah, bukan oleh asumsi semata… kalau asumsi semata itu namanya nulis dongeng…

    seorang penulis ilmiah harus melepaskan semua atribut subyektifitasnya dan mengedepankan obyektifitas, jika tidak karyanya hanya kesia-siaan.

    coba buktikan kalau Demak tidak menyerang Majapahit (buat apa Demak menyerang Majapahit jika Majapahit adalah kerajaan Islam?)

    Coba buktikan jika candi-candi peninggalan Majapahit adalah candi Islam.

    Jangan demi memuliakan keyakinan yang dianut, lalu segala cara (bahkan cara-cara yang tidak pantas) dihalalkan.
    Kebenaran tidak pernah berdiri diatas ketidakbenaran, apalagi kebohongan.

    Semoga Allah SWT memberi pengampunan kepadamu.

  • Oya, satu hal lagi… bagaimana pula tentang upacara Sraddha pada tahun 1486 yang konon tentang pengesahan tanah Trailokyaputri kepada Brahmaraja Ganggadhara?

    Yang dikedepankan adalah tahun 1486 (untuk mematahkan pendapat bahwa Majapahit berakhir pada 1400) dan mengabaikan bahwa upacara Sraddha adalah bukan upacara dalam Islam tetapi hanya ada dalah tradisi Hindu Buddha.

    Sungguh tulisan yang sangat menyesatkan.

  • Terpenting dalam sanggahan pendapat ini harus Ada bukti yang menjadi dalil Dan rujukan …Sdri Gita tidak bisa men just sesat Dan tidak sesat…
    Logikanya gampang….jika orang pertama Belum per nah ke Arab Dubai…diceritakan Dubai…Dan orang yang per nah ke Dubai itu menceritakan sedikit daerah yang dikunjunginya….apakah itu sesat…tentu tidak…Akan tetapi melengkapi pengetahuan is orang yang Belum ke Dubai itu….supaya mendapatkann tambahan informasi….

  • Mungkin saja. Karena rakyat Majapahit sekarang ini adalah mayoritas Islam. Tidak mungkin ujug ujug muncul kerajaan demak kalau sebagian besar rakyatnya sudah berganti agama menjadi Islam.

  • itu bukan sesat tapi laknatttt ,,,,,, anjing kayak lu ga usah ikut2an sok jadi ahli sejarah,,,, mati aj lu…

  • Tanpa bermaksud membela yg posting, sebenarnya SEJARAH adalah ranah yg penuh warna abu abu. Sebuah biografi bisa dikarang sesuai dengan keinginan penerbit biografi tsb. Contoh yg masih hangat adalah kontroversi tentang relasi Suharto dengan badan intelejen Amerika (CIA) dalam upaya melengserkan Sukarno. Keluarga Sukarno merespon negatif isi buku tersebut yg mengkaitkan Sukarno terlibat dalam pembunuhan Dewan Jendral oleh PKI. Itu penomena sejarah masa kini, apatah lagi dengan sejarah ratusan tahun ketika para saksi sejarah telah meninggal dunia, tidak bisa diklarifikasi. Alat untuk mencocokannya ya dengan bukti situs atau peninggalan yg berhubungan dengan sejarah itu. Ada contoh manipulasi sejarah. Yaitu sejarah perlawanan Patimura dan Si Singamangaradja terhadap kolonial Belanda. Dalam buku teks sejarah perjuangan versi Nugroho Notosusanto, mereka adalah pahlawan yg beragama Protestan padahal dari lacakan bukti sejarah adalah seorang Muslim. Mengapa kok bisa begitu? Karena ada pesan sponsor untuk meredam kekuatan umat Islam di Nusantara. Islam dianggap suatu kekuatan yg dianggap berbahaya bagi kolonial (masa lalu) dan bagi pengagum demokrasi (kolonialisme modern). Agar Islam tidak punya power dibikinlah sejarah yg tidal sesuai dengan fakta dengan maksud melunturkan semangat dan kebanggaan dalam perjuangan mengusir kaum kolonial. Efek sejarah yg tidak sesuai dengan fakta sejarah itu kini terasa dengan wajah wajah muslim yg malu dengan identitas muslimnya dan lebih suka dengan identitas pluralisme. Berkaitan dengan situs peninggalan Hindu bisa jadi ada rekayasa dari kolonial Belanda dengan merubah bukti tertulis di situs tersebut karena situs situs tersebut ditemukan pada jaman kolonial. Kebiasaan licik penjajah adalah melunturkan bukti kebesaran mayoritas( muslim) dengan menampilkan kebesaran minoritas. Yang terjadi adalah tidak ada rasa kebanggaan bahwa Islam telah berjaya di Nusantara ini.

  • apasih yang kalian pahami dari sejarah semuanya hanya membaca setelah itu yang pro mngagumi yang kontra menghujat lalu apa yang dinilai dari peninggalanya/????? sejarah hanyalah cerita sbagaimana kita bergosip untuk menulis artikel seseorang dan lidah tidak bertulang bisa mnggerakkan jari jemari untuk membikin sejarah baru fiktif atau non fiktif dan kurasa pngaguman lebih penting dari pada semuanya karna seperti yang kita jalani kita hidup adalah utnuk mejalani proses kematian maka lakukan lah hidupmu lebih baik jadi kematianmu lebih berarti>>>>>…… makasih

  • setuju sama Ginta Sanubari, apakah candi Majapahit itu adalah Candi Islam ? kenapa nggak ada Masjid yang dibangun ? juga untuk masalah koin emas dan peninggalan “Kesultanan Majapahit” yang ada tulisan Islaminya, apakah penulis bisa memberikan bukti berupa gambar atau foto ?

  • [...] terima kasih dan penghargaan positif atas komentar-komentar sahabat Mawar Merah dalam postingan Fakta ‘Kesultanan Majapahit’ Yang Tersembunyi. Sebelumnya, saya mohon maaf sekiranya artikel tersebut membuat kegelisahan baru bagi pegiat [...]

  • he…he….saya merasa bersukur melihat peninggalaan kakek moyang saya berupa candi tikus,candi Brahu,dll di Trowulan,meski mereka beda agama dengan saya.Tentram sekali rasanya.Mungkinkah mereka Islam ….??????

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!