Aug 14, 2011 - Catatan Kaki    No Comments

Insiden Kramat Raya 25

Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang menjadi pijakan perjuangan dakwah Salafiyyah selalu mengedepankan sikap adil dan ilmiah. Sedangkan sikap adil itu adalah sikap yang tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu kecintaan dan atau kebencian kepada seseorang atau sekelompok orang. Sedangkan sikap ilmiah adalah kepastian berita dari sumber yang diyakini kejujuran dan kebenarannya dalam menyampaikan berita dengan dikontrol oleh Al Qur’an serta As Sunnah. Sedangkan dakwah-dakwah yang lainnya selalu dipengaruhi oleh hawa nafsu hizbiyyah yang melihat segala perkara dengan ukuran cinta dan benci kepada hizb-nya atau terhadap lawan hizb-nya. Sehingga tidak mementingkan sisi ilmiah dalam menghukumi suatu masalah, padahal di zaman ini amat sedikit orang yang jujur dalam menyampaikan berita. Akibatnya gerakan-gerakan dakwah hizbiyyah cenderung mendzalimi kawan dan lawan dalam banyak hal, dan ditunggangi oleh berbagai kepentingan musuh-musuh Islam atau para oportunis yang ingin menjual-belikan Islam dengan harga yang murah.

Menyikapi gencarnya informasi yang beredar di internet mengenai tudingan penyimpangan manhaj Ustadz Ja’far Umar Thalib. Maka saya perlu memberikan klarifikasi terhadap segenap berita yang dilansir, kiranya dapat menjadi kejelasan bagi segenap pembaca.

Para pembaca perlu mengerti, bahwa praktik manipulasi kerap mewarnai mayoritas berita yang beredar sehingga amat rentan menimbulkan interpretasi yang salah, dan tentunya akan lebih fatal lagi kesalahannya jika berani mencoba menarik kesimpulan hukum berdasarkan pemahaman yang salah. Upaya pengkaburan informasi secara profokatif hendak menggiring para pembaca sekalian, sebagai konsekuensinya banyak orang yang tertipu bahkan tanpa sadar telah dikondisikan untuk bersikap antipati terhadap pihak tertentu tanpa mengerti substansi persoalannya, berikut tuduhan miring yang dimaksud :

1. TUDUHAN: Intervensi Ustadz Ja’far Umar Thalib dalam kasus eksekusi bangunan di Jalan. Kramat Raya no. 25 JAKPUS dianggap sebagai “tindakan berbau Khawarij, hizbiyyah, ashobiyyah yang amat sangat tidak pantas bagi beliau yang mendatangi ulama Ahlussunnah dan mengaku ruju’ disana maupun di majalah dan situsnya” (http://nyata.wordpress.com/2008/10/05/jut-jafar-umar-taubat-1/). Juga informasi dusta yang dilansir http://alirsyad.net/index.php?option=com_content&task=view&id=125&Itemid=2 dengan judul “Eksekusi Kramat Raya 25 Berjalan Mulus”.

KLARIFIKASI: Intervensi Ustadz Ja’far Umar Thalib dalam kasus eksekusi bangunan di Jalan. Kramat Raya No. 25 JAKPUS memang benar adanya. Namun tidaklah relevan dan cenderung mengada-ngada jika dinilai sebagai tindakan melawan pemerintah, berbau Khawarij, hizbiyyah, dan ashabiyyah.

Saya sangat prihatin dengan penilaian tersebut diatas, pasalnya penilaian seperti ini hanya karena melihat dan meraba-raba permasalahan yang ada di permukaan, tanpa menyoroti akar dari permasalahan yang sesungguhnya menyangkut konteks perkara yang sangat substansial. Dan yang lebih parah lagi, tampak pada sebagian orang ikut-ikutan memberikan penilaian semata-mata hanya berdasarkan informasi yang beredar di website-website yang tidak dikenal identitas narasumbernya yakni tidak dikenal disiplin ilmunya juga kondite akhlaqnya dalam berbicara dan pemberitaan atau dengan kata lain “Majhul Haal”. Dalam sistematika periwayatan hadits telah dijelaskan dengan panjang lebar, bahwa jika seorang rawi (narasumber) dinilai Majhul Haal oleh para ahlinya, maka sangat diragukan tingkat akurasinya. Artinya berita yang disampaikan rawi tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, berhubung tidak dikenal kejujurannya sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk meyakininya.

Perlu pembaca ketahui, bahwa sesungguhnya telah terjadi ketegangan dalam organisasi Al-Irsyad di Indonesia hingga berujung pada perselisihan yang terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama bisa dikatakan lebih cenderung kepada manhaj Salaf, sedangkan kubu kedua lebih cenderung kepada liberalisme yang notabene sebagai pemahaman sesat dan dalam posisi memerangi dakwah Salafiyah di Indonesia khususnya. Diantara tokoh-tokoh mereka ialah Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Ahmad Ganes (donatur Jaringan Islam Liberal), Manshur Al-Katiri (sangat resah dengan keberadaan dakwah Salafiyah) yang masuk dalam jajaran Dewan Pengurus Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyah.

Singkat cerita, kubu liberal hendak bertindak sebagai eksekutor guna mengeksekusi kantor Al-Irsyad yang ada di Jalan Kramat Raya no. 25 JAKPUS. Upaya ini pada mulanya didukung oleh PN JAKPUS (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) yang bertindak sebagai juru sita. Melihat fenomena diatas kader Al-Irsyad dari kubu pertama tidak bisa menerima hal itu, karena sesungguhnya pada Jalan Kramat Raya no. 25 tidaklah terdapat kantor Al-Irsyad sebagaimana anggapan kubu liberal, dan hal ini sempat dibuktikan dihadapan juru sita pada tanggal 29 September 2008 yang lalu.

Dengan adanya upaya eksekusi secara sepihak ini, kader Al-Irsyad dari kubu pertama meminta Ustadz Ja’far Umar Thalib guna membantu mereka untuk menggagalkan upaya eksekusi bangunan tersebut, dan Ustadz Ja’far pun menyatakan kesiapannya. Perlu diketahui, bahwa hal ini beliau lakukan sebatas menjaga hak mereka sesama muslim, dan disertai rujukan pertimbangan antara maslahat dan mafsadah dalam pandangan syari’ah. Al-Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu `anhu menceritakan:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam telah memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dengan tujuh perkara”. Maka Al-Barra’ menyebutkan tentang perintah-perintahnya, yaitu: Menjenguk orang Islam yang sakit, mengantarkan jenazah Muslim ke kuburan, mendoakan rahmat bagi orang Islam yang bersin yang mengucapkan alhamdulillah, menjawab salam saudaranya sesama Muslim yang mengucapkan salam, menolong orang Islam yang di dzalimi , memenuhi undangan orang Islam, dan menunaikan sumpah yang telah di ikrarkan”. (HR. Bukhari hadits ke 2445)

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda :

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan dzalim atau dalam keadaan di dzalimi”. Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, kalau saudara kami itu dalam keadaan di dzalimi, maka semestinya kami menolongnya. Lalu bagaimana pula kalau saudara kami itu dalam keadaan dzalim, bagaimana kami menolongnya?” Maka beliau pun menjawab: “Bila kalian melihat saudara kalian itu dalam keadaan dzalim, maka cegahlah dia dari kedzaliman itu dan yang demikian itulah pertolongan kalian kepadanya”. (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari juz 5 hal. 98 hadits ke 2444)

Maka menolong saudara sesama Muslim yang sedang di dzalimi adalah dalam rangka menunaikan hak mereka, walaupun pada mereka terdapat kekurangan-kekurangan dalam perkara manhaj, akan tetapi kekurangan-kekurangan tersebut tidaklah membatalkan hak mereka sebagai seorang muslim. Oleh karena Ustadz Ja’far diminta untuk menolong mereka, maka beliau pun menyatakan kesiapannya. Dan yang dihadapi ialah kubu liberal yang notabene sebagai aliran sesat dan dalam posisi memerangi dakwah Salafiyah khususnya di Indonesia dan dakwah Islamiyah umumnya; jadi tidak hanya sebatas urusan eksekusi bangunan semata.

Sebelum berlangsung upaya eksekusi bangunan yang berbuntut kegagalan itu, Ustadz Ja’far Umar Thalib sempat menemui Joko Sarwoko yang menjabat sebagai Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pengawasan yang juga sebagai atasan daripada juru sita PN Jakarta Pusat. Ustadz Ja’far sempat berdiskusi dengan beliau mengenai penyelesaian perkara ini. Alhasil beliau menyatakan tidak benarnya tindakan kader Al-Irsyad kubu liberal itu oleh karena mengalami cacat hukum, dan pada akhirnya juru sita pun (yang awalnya berupaya membantu untuk mengeksekusi gedung) mengunci pintu gedung tersebut dengan cekatan dan menyatakan bahwa yang berhak didalam bangunan itu ialah Ustadz Ja’far Umar Thalib dan murid-muridnya. Jadi tidak relevan jika muncul anggapan bahwa Ustadz Ja’far melawan pemerintah, justru Ustadz Ja’far bekerja sama dengan pemerintah guna menyelesaikan perkara. Toh jika memang terjadi kemungkaran pada praktisi hukum negara, maka tidak bisa digeneralisir sebagai bentuk separatisasi ketika berupaya mengingkarinya dengan cara-cara yang syar’i.

Adapun kehadiran murid-murid Ustadz Ja’far di Jalan Kramat Raya no. 25 itu bukanlah bertindak sebagai preman. Akan tetapi berupaya menghadang tim eksekutor yang melibatkan para preman. KAPOLSEK Senen A. L Tobing beserta anak buahnya pun datang guna bertindak sebagai penanggung jawab keamanan didaerahnya. Walhamdulillah tidak ada terjadi bentrokan diantara pihak yang hadir, hanya saja Ustadz Ja’far sempat melempar kacamata seseorang yang lisannya pecototan dan memang itu sikap yang pantas bagi dirinya.

KAPOLSEK A. L Tobing pun pada kali yang kelima mencium tangan Ustadz Ja’far sebelum bertolak dari TKP meminta dengan penuh harapan kepada beliau untuk menjamin keamanan di Jalan Kramat Raya no. 25 itu. Dan Ustadz Ja’far pun menyatakan akan bertanggung-jawab dan menjamin keamanan didaerah tersebut. Jadi sesungguhnya ada kerja sama antara pihak kepolisian dengan Ustadz Ja’far dalam memberikan jaminan keamanan. Maka cenderung mengada-ada jika dianggap sebagai tindakan yang berbau Khawarij, hizbiyyah, ashabiyyah, Wal ‘iyadzubillah.

2. TUDUHAN: Ada sebagian orang yang berceloteh dengan kepolosannya menyatakan bahwa Ustadz Ja’far Umar Thalib berpaling dari Imam Abu Hanifah Nu’man Bin Tsabit (Imam Hanafi) dan Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahumallah

KLARIFIKASI: Sesungguhnya tuduhan ini sudah sangat lama dilontarkan, namun di publikasi kembali oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan di utarakan kepada khalayak yang baru mengenal manhaj Salaf. Sehingga cukup menjadi talbis (pengkaburan) yang dapat menodai pemahaman seseorang. Namun yang menjadi masalah tidak hanya sebatas efek tuduhan yang berupa pengkaburan, akan tetapi kualitas pelanggaran yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perlu dimengerti bahwa Ustadz Ja’far Umar Thalib tidak pernah menyatakan bahwa beliau berlepas diri secara mutlak dari Abu Hanifah dan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Hanya saja ada beberapa kesalahan para Imam tersebut yang kaum muslimin perlu berhati-hati padanya.

Imam Hanafi adalah Imam madzhab Fiqh yang empat, yang tertua dari ke-empat Imam madzhab Fiqh itu. Beliau mempunyai pemahaman bid’ah yang sesat yaitu pemahaman murji’ah yang menganggap bahwa amalan tidak menaikkan iman dan tidak menurunkan iman. Sehingga iman para Nabi sama dengan iman orang-orang fasiq. Mereka mengatakan pula bahwa iman itu tetap dan tidak akan bertambah dan berkurang. Pemahaman murji’ah Abu Hanifah ini mengikuti jejak pendahulunya dari tokoh-tokoh penggagas pemahaman tersebut.

Banyak dari para Ulama Ahlul Hadits membantah pemahaman sesat Abu Hanifah ini semisal Al Imam Al Hafidz Abdullah Bin Muhammad Bin Abi Syaibah Al Kufi Rahimahullah dalam karyanya yang monumental berjudul “Mushannaf Ibnu Abi Syaibah”, didalam kitab tersebut beliau mengkritik Al Imam Al Hanafi dengan kritikan tajam dalam satu bab khusus di jilid 8 hal. 363 sampai 433 dengan judul Kitabu Raddi ‘Ala Abi Hanifah (kumpulan bab-bab yang berisi tentang bantahan terhadap Abu Hanifah). Kemudian Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam sub judulnya “Ini adalah keterangan tentang perkara dimana Abu Hanifah telah menyelisihi sunnah Nabi”. Dalam keterangan beliau, dibawakan 124 masalah bahwa Abu Hanifah telah menyelisihi sunnah dalam masalah-masalah tersebut.

Al Imam Al Hafidz Abu Bakr Ahmad Bin ‘Ali Al-Khatib Al-Baghdady Rahimahullah dalam karya beliau berjudul “Tarikh Baghdad” jilid 13, beliau membawakan riwayat hidup Imam Hanafi dan sekaligus kritikan-kritikan tajam yang beliau sampaikan tentang penyimpangan-penyimpangan Abu Hanifah.

Juga termasuk Abdullah Bin Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah (putra Imam Hanbali) yang menulis dalam kitab beliau “As Sunnah” dengan judul “Bantahan Terhadap Murji’ah”, padanya Imam Abdullah Bin Ahmad Bin Hambal membawakan riwayat-riwayat kritikan para Ulama terhadap Imam Hanafi dalam penyimpangannya tentang pemahaman murji’ah ini.

Adapun Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullah, beliau termasuk jajaran Ulama Ahli Hadits yang memiliki pandangan yang salah sebagai produk ijtihad beliau; khususnya dalam pembahasan Tauhidul ‘Asma’ Wash Shifat sebagaimana yang termaktub dalam karya beliau “Fathul Bari”.

Maka dengan adanya berbagai kritikan itu, menyebabkan kita semakin yakin bahwa tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Dan kalau kita mensyaratkan untuk mengambil ilmu itu hanya dari orang yang tidak mempunyai kesalahan, maka semua pintu ilmu akan tertutup. Karena semua orang termasuk Shahabat Nabi yang menyampaikan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam kepada kita, juga tidak lepas dari kekeliruan dan kesalahan.

Hanya saja kita tidak boleh mengabaikan kesalahan-kesalahan itu sehingga kita mengikutinya. Dan tidak boleh pula kita menyudutkan para Ulama tersebut dengan tanpa merujuk kepada para Ulama yang se-level dengan mereka dalam menyoroti kesalahan mereka. Kita menerangkan kesalahan para Ulama dengan menukil keterangan para Ulama yang se-level dengan mereka tentang kesalahan itu dengan niat ikhlas karena Allah yakni untuk menyelamatkan diri kita dan ummat kita dari kesalahan tersebut, dan tidak dalam rangka mencari-cari kesalahan para Ulama itu.

Sebagai penutup, saya menasehatkan kepada diri saya sendiri khususnya dan para penuntut ilmu umumnya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan membersihkan niatnya dalam thalabul ‘ilmi agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari berbagai fitnah tersebut dan berbagai makar musuh-musuh dakwah Salafiyah. Salah satu makna taqwallah ialah sebagaimana yang diriwayatkan dari penjelasan Anas Bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang mu’min itu dianggap belum bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa jika belum berhasil menghemat penggunaan lisannya dalam perkara yang tidak ada manfaatnya. (Tafsir Ibnu Katsir dalam pembahasan surat Al-Imran ayat ke 102).

Oleh karena betapa lemahnya taqwallah pada diri seseorang sehingga mendorong dia untuk berbicara tanpa mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadahnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam telah menjatuhkan vonis dusta terhadap orang yang mengabaikan sikap Wara’ (kehati-hatian) dalam berbicara dan pemberitaan :

“Cukuplah seorang dikatakan telah berdusta, bila dia menyampaikan berita dari apa saja yang dia dengar”. (HR. Muslim hadits ke-5)

Al-Imam Abu Zakariya Yahya Bin Syaraf An-Nawawi menerangkan: “Maknanya, bahwasanya seseorang bila menceritakan segala yang dia dengar, maka akan terjadi banyak kesalahan dalam periwayatan. Sehingga keadaan orang yang demikian ini perkataannya tidak bisa dijadikan sandaran dan tidak lagi diambil beritanya”. (Syarh Shahih Muslim 1/ 69). Yakni setiap mendapatkan berita yang dia dengar langsung disampaikan kepada berbagai pihak, tanpa disertai upaya ilmiah dalam memastikan kebenaran berita tersebut.

Maka hendaknya kita pergunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya, berhubung waktu yang kita miliki amat sempit, umur yang pendek dan kemampuan kita amat terbatas, sehingga kita perlu memperhatikan sisi efektifitas dan efisiensinya. Karena sebaik-baik manusia ialah jika semakin bertambah umurnya maka semakin baik amalannya dan sejelek-jelek manusia ialah jika semakin bertambah umurnya akan tetapi semakin jelek amalannya. Takutlah kepada Allah dari menyibukkan diri dengan mencari-cari kesalahan saudaranya, berburuk sangka kepadanya, sibuk mengintainya bertahun-tahun, sungguh waktumu terbuang sia-sia yaa akhi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari berburuk sangka kepada saudaramu sesama Muslim, karena berprasangka buruk kepada sesama Muslim itu adalah sedusta-dustanya omongan. Dan janganlah kalian saling mencari keaiban saudaranya sesama Muslim dan jangan pula kalian saling mengintai satu dengan yang lainnya, jangan pula kalian saling mendengki satu dengan lainnya dan jangan saling marah satu dengan lainnya, dan jangan kalian saling membelakangi satu dengan lainnya, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 6074. Lihat Fathul Bari juz 10 hal. 481)

Saya menasehatkan juga kepada para penuntut ilmu untuk jangan ikut-ikutan berbicara tentang segala sesuatu yang belum di pahami dan atau segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi kepentingan kalian dalam menuntut ilmu. Terlebih lagi dalam perkara yang menjadi sebab untuk kita terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan yang akan semakin menjauhkan kita dari Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu Bish-shawab.

Fikri Abul Hassan

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!