Jul 12, 2011 - Diary Pejalan Sunyi    No Comments

Vatikan oh Vatikan

……..mengaminkan sejarah tentang bagaimana paganisme Babel telah menyebar ke bangsa-bangsa, lalu diterima masuk ke dalam Istana Kepausan di Vatikan, Roma, dan akhirnya disatukan dalam ritual keagamaan. Maka untuk mengabadikan hubungan yang paralel antara keagamaan dan politik, dibentuklah Jesuit untuk melakukan penetrasi dan infiltrasi pemerintahan-pemerintahan dan negara-negara di dunia ini untuk memanipulasi sejarah dengan membentuk kediktatoran, dan memperlemah demokrasi dengan menciptakan anarki di bidang sosial, politik, moral, militer, pendidikan, dan keagamaan…..(Menerobos Benang-Benang Misterius, xiii-xiv, Menyusup Kabut Gelap Vatikan, Bondan Wibisono)

Seorang jurnalis dan penulis Amerika Serikat, Eric Frattini, mengungkapkan mengenai sebuah rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Vatikan. Rahasia tersebut dinamakan “Persekutuan Suci”. Dalam bukunya yang diberi judul: “Entity: Five Centuries of Secret Vatican Espionage” dalam buku tersebut dituliskan, “Vatikan, organisasi tertua di dunia dan menghasilkan banyak raja dan sejarah dalam lima abad, ternyata memiliki alat mata-mata rahasia bernama “Persekutuan Suci”.  Alat tersebut dipergunakan untuk melanggengkan keinginan Vatikan.

“Kami menggantungkan penerapan kebijakan pada paus. Untuk menghadapi orang-orang yang meninggalkan agama, dan perpecahan terhadap agama Kristen, demikian halnya dengan revolusi, diktatorisme, kolonialisme, deportasi, penganiayaan dan penyerangan, perang sipil, perang dunia, penculikan dan pembunuhan.”

Dalam bukunya, Frattini menuliskan, “Cerita lengkap mengenai intelijen suci, yang terlibat dalam membunuh raja-raja, meracuni para diplomat dan mendanai para diktator Amerika Selatan.

Intelijen tersebut juga terlibat dalam upaya melindungi para penjahat perang dan mencuci uang mafia serta melakukan manipulasi pasar yang menyebabkan kebangkrutan.”

Buku setebal 509 halaman tersebut juga diterbitkan dalam bahasa Arab dan diterbitkan oleh penerbit di Beirut. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, melalui pemeriksaan dan pengeditan. Versi bahasa Inggris buku tersebut dirilis dengan judul Entity. Penerbitannya mendahului edisi pertama bahasa Arab. Buku tersebut diedarkan di Inggris, Spanyol, Perancis, dan penjualannya tidak tertandingi.

Sebelumnya, seorang jurnalis Barat mengungkapkan bahwa Vatikan telah mengumandangkan perang terhadap Islam. Hal tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari skandal seksual Vatikan dan juga atas sejumlah pengikut Vatikan yang memeluk Islam.

Skandal seks Italia tersebut melibatkan sekitar 4.000 orang pastor, kardinal, serta biarawati. Mereka juga memaksakan aborsi agar skandal tersebut tidak terungkap ke publik. Skandal tersebut melibatkan orang-orang yang tersebar di AS, Brazil, Filipina, India, Italia, dan Gereja Katolik Vatikan sendiri.

Paus Benediktus XVI sedari awal berupaya menyembunyikan skandal tersebut, ia memperingatkan mengenai bahaya Islam agar perhatian para umat Katolik teralihkan dari skandal para pendeta.

Vatikan menyebut skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak di Irlandia sebagai sebuah hal yang “membuat malu” Gereja Katolik. Hal tersebut diungkapkan ketika sejumlah uskup dari Irlandia bertemu dengan Paus Benediktus XVI. Para pastor yang terlibat dalam pelecehan telah melakukan “tindakan yang amat buruk”, demikian kata pihak Vatikan pada hari Senin lalu, ketika sejumlah uskup Irlandia bertemu dengan Paus. Dalam kabel yang dirilis WikiLeaks, Noel Fahey, Duta Besar Irlandia untuk Vatikan mengatakan pada diplomat AS Julieta Valls Noyes, skandal seks pastur Irlandia merupakan krisis paling sulit yang pernah dihadapinya. Kabel tersebut berjudul: “Skandal kekerasan seks menegangkan hubungan Irlandia-Vatikan, mengguncang gereja Irlandia dan mendatangkan tantangan bagi Takhta Suci”.

Sementara, Menteri Luar Negeri Vatikan, Tarcisio Bertone, mengatakan kepada para uskup tersebut bahwa terungkapnya kasus pedofilia sistemik yang telah berlangusng sejak lama tersebut merupakan sebuah tantangan yang berat dan memalukan bagi Gereja Katolik Irlandia.

“Tantangan yang datang dari dalam memang biasanya lebih sulit dan memalukan,” katanya pada saat para uskup tengah mempersiapkan pertemuan dengan Paus Benediktus XVI.

“Tantangan serius semacam itu melanda komunitas kalian, dimana para pelayan Gereja terlibat dalam tindakan yang amat buruk,” katanya.

Lebih dari 20 orang uskup berdialog dengan Paus di Vatikan, lebih dari dua hari berselang setelah terungkapnya skandal pelecehan anak-anak tersebut. Ditambah dengan bukti bahwa otoritas gereja telah dengan sengaja menutup-nutupi fakta perilaku pedofilia yang dilakukan para pastor selama tiga dekade.

Krisis tersebut pecah pada bulan November, menyusul dirilisnya hasil investigasi pemerintah Irlandia mengenai kejahatan tersebut, dan terungkapnya fakta bahwa para petinggi gereja telah melindungi praktik pelecehan seksual tersebut selama berpuluh-puluh tahun agar tidak tersentuh hukum. Laporan Murphy mengungkapkan bahwa gereja Katolik “terobsesi” dan melakukan pelecehan terhadap anak-anak dari tahun 1975 hingga 2004.

Uskup Besar Armagh, Sean Brady, mengatakan kepada Vatican Radio bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari “perjalanan penyesalan, rekonsiliasi, dan pembaharuan” bagi gereja Irlandia.

Skandal tersebut menyentak Irlandia, empat dari lima orang uskup yang menerima kritikan atas ketidakmampuan menindaklanjuti laporan pedofilia telah mengundurkan diri.

Namun, uskup kelima, Martin Drennan dari Galway, bersikeras bahwa dirinya tidak pernah melakukan apapun yang membahayakan anak-anak. Ia menolak desakan agar dirinya mengundurkan diri.

Setidaknya citra kemanusiaan terus menerus bertumbuh dan senantiasa meningkat dengan adanya bahan-bahan baru ketika informasi tentang mereka dapat diperoleh. Akhirnya, kita dapat menemukan misterinya sendiri

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!