May Day, Tradisi Kuno dan Buruh

May 1st, 2013 § 0 comments § permalink

Hari ini, seluruh dunia hingar bingar menyambut hari untuk buruh, 1 Mei dan setiap orang menyebutnya May Day! Parade? Demonstrasi, Hari Libur Nasional, Hari Bebas Bekerja, atau Tarian Mengelilingi Tiang Berhiaskan Untaian Bunga? Apa yang terbersit di benak sahabat-sahabat Mawar Merah? Tergantung sahabat-sahabat Mawar Merah tinggal?

Kisah lain tak kalah menariknya, di zaman Roma kuno, hari pertama bulan Mei jatuh pada festival Floralia, dinamai demikian untuk menghormati Flora, dewi musim semi dan bunga. Itulah waktu untuk bernyanyi, menari, dan mengadakan parade bunga. Para pelacur Romawi khususnya menikmati festival ini, karena mereka menganggap Flora sebagai dewi pelindung mereka.

Pada waktu orang Romawi menaklukkan negeri-negeri lain, mereka memperkenalkan adat istiadat dan tradisi mereka. Akan tetapi, di negeri-negeri Keltika, orang Romawi mendapati bahwa hari pertama bulan Mei telah dirayakan sebagai festival Beltane. Pada malam sebelum tanggal satu Mei, semua api dipadamkan, dan ketika matahari terbit, orang-orang menyalakan api unggun di puncak bukit-bukit atau di bawah pohon-pohon keramat untuk menyambut kehidupan yang diperbarui. Mereka membawa ternak ke padang rumput, dan memohon kepada dewa-dewi untuk melindungi ternak itu. Tidak lama kemudian, Floralia menyatu dengan Beltane dan menjadi festival May Day. » Read the rest of this entry «

Rumah Batu Bata

April 26th, 2013 § 1 comment § permalink

Tergolek di dalam kamar sebuah rumah bersusun batu bata, sedang di lantai, di atas sofa, anak-anak rantau itu nyenyak tidurnya dalam kukuban sulaman benang tebal, aku mengucap syukur mempunyai seorang ibu yang begitu gagah dalam hati dan pikirannya. Malam jatuh kepada garis-garis wajah yang dilukis oleh cahaya temaran, ketika perkasa lampu mematikan gemuruh jalan. Tilbury, kota tua seolah aku hidup di zaman Sherlock Holmes, tenang, tenggelam dalam rahasianya yang menggenang. Tumpangan khayal melalang terbang jauh menerabas awan kemustahilan. Gambar gambar mati tersaji bagai replica taman kaca, indah menyayat. Pupus mimpi hanya  oleh sepatah sepatah kalimat penyampai yang termaknakan keliru dan berbeda. Sisi sisi berisi estetika rasa, bukan tentang siapa dia tetapi tentang betapa sempurna ciptaanNya.

Pagi seperti membelah waktu saat pertempuran kehendak bisu menggejolak, pertarungan antar nilai dan kodrat alam fauna. Tipu daya berasa seolah nyata, membentuk gugusan kebodohan yang mengagumkan.  Kesadaran atas kemanusiaan yang manusiawi membawa angin menganyam ingatan, atas utas demi utas kenangan masa silam.  Pada pucuk Menara Big Ben, sepasang mata agung berkilauan menawarkan rindu. » Read the rest of this entry «

Sepotong Thames Nostalgia April

April 26th, 2013 § 0 comments § permalink

Detik-detik akhir April ini, saat putra bumi belum empunya peduli atas dongeng dan nyanyian, dua puluh satu April menjadi tanda Kartini sebagai keluarbiasaan berikut manifestasi kemampuan bangsanya menemukan jiwa. Tepat di lorong stasiun Kereta Api St Pacras perlahan redup, seiring lampu yang perlahan menggeliat. Senja turun mengikat satu demi satu cahaya. Sepasang orang terbuang berkerumun di tepi sungai Thames, bersiap melintasi malam sekali lagi. Mata waspada, ketika iblis meretakkan gerak raga di Hampton Court dengan Molesley Timur. Tinggalah dingin membelah tulang. Tower Bridge menyimpan klasik dan penghias langit belaka bagi siklus kehidupan sisa-sisa ribuan tahun lalu.Nyala London Eye seolah melantunkan lagu pilu tentang masa silam dan orang orang dalam kenangan. Tiba saatnya sadar, bahwa ternyata masa lalu tertimbun jauh lebih banyak ketimbang jumlah masa depan. Tiba tiba hidup menjadi terasa usang.

Tersedak, suara  pengumuman dari speaker bus, tiba di Mile End dan halte itu tak jauh dari Queen Mary, aku berjalan di sepanjang danau menjadi terminal pikiran bagi setiap pejalan. Langit di atas kota London nampak cerah, meskipun udara masih tetap sama dingin. Matahari perlahan-lahan bergerak menuju ke peraduannya, merebak angkasa dengan sapuan warna jingga. Inilah dasar dari sebuah peradaban kota, ampas dari  cita cita perjalanan masa muda. Mimpi mimpi terdampar pada lapak lapak dekil Westfield Way, orang-orang begitu kesepian, dengan wajah-wajah gelisah seolah takut sendirian. Sungguh, sebenarnya setiap orang selalu sendirian, meskipun ditengah keriuhan. Sungguh sebenarnya setiap manusia adalah invididu yang membawa dunianya sendiri sendiri, hidupnya sendiri dengan cara paling rahasia. » Read the rest of this entry «

Saat Si Miskin Melawan?

May 1st, 2013 § 0 comments § permalink

Suatu pagi bersama secangkir cappucino di kota kecil Yorkshire Utara, dua jam perjalanan dengan kereta api dari London. Pemandangan bunga-bunga daffodil dan sakura warna-warni kelopaknya sungguh melupakan otak berolah pikir. Selusuri jalan kota yang ditemukan bangsa Roma tahun 71 SM. Terlebih saat menempuh perjalanan kaki dengan menaiki tembok yang disebut York City Walls, sepanjang 2,5 mil (sekitar 4 km), kira-kira 2,5 jam perjalanan.

Sebagai catatan, kota ini memang terkenal dengan nama Walled City. Bangsa yang menjajahnya, mulai dari Roma, Angles, Viking, sampai Norman, bergantian membangun tembok untuk menjaga kota dari  musuh, mulai dari abad pertama Masehi sampai abad ke-16. Dari ketinggian empat meter, pemandangan yang disajikan kota lebih terekspos. Pohon-pohon tertanam rapi, bunga-bunga berbagai jenis di pinggir jalan dengan warna-warninya menambah keceriaan. Udara sejuk dan nyaris tanpa polusi. Tak heran jika kota ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Inggris.

Sungguh! Saya lupa pikir :)

Tepat 1 Mei ini, saya mengutip kliping koran harian Kompas, 22 Mei 2006 bahwasannya Lingkar Muda Indonesia menyebut “fundamentalisme pasar dengan kekuatan korporasi global tengah melahirkan pemiskinan, ketidakadilan sosial, pendangkalan hidup, penyeragaman, dan mengancam kedaulatan negara lewat jebakan utang dan kesepakatan global yang tak adil. Kekuasaan korporasi global telah melumpuhkan kekuasaan negara dan pemerintahan. Pemerintah sebagai lembaga utama negara semakin kehilangan kapasitas untuk mengurus kepentingan publik”.

Hmmmm… » Read the rest of this entry «

Saat Senyum Matahari Mengumbar

April 28th, 2013 § 0 comments § permalink


Bagi mereka yang percaya bahwa media massa haruslah sejalan dengan nafsu kapitalisme modern, hendaklah menengok Charles Anderson Dana. Dana memimpin sebuah koran yang didedikasikan untuk perjuangan buruh: The New York Sun. Saat semua media berpihak pada kelas pemodal, Dana menunjukkan bahwa The Sun (yang berarti Surya) menyinari semua tanpa memandang kelas sosial.

Tompkins Square Park di New York dingin dan dilapisi salju, 13 Januari 1874. Krisis ekonomi membuat ribuan buruh tak punya pekerjaan, dan berunjuk rasa menuntut lowongan kerja. Sejak awal pemerintah kota dan polisi sudah menolak pelaksanaan aksi ini.

Buruh tetap bersikeras. Dua pertiga aparat kepolisian membuat barikade antara Alun-alun Tompkins dengan Balai Kota New York. Buruh berbaris, dan polisi mulai menyerang mereka dengan pentungan. Darah mengucur. Sebanyak 46 orang demonstran ditahan.


Semua media massa mengutuk aksi kekerasan sebagai kesalahan kaum buruh. The New York Tribune menyebut para demonstran sebagai orang asing gila, dan tuntutan atas pekerjaan dan makanan disebut sebagai ‘omongan yang goblok dan kriminal’.

Dana berdiri sendirian. The New York Sun, menjadi advokat para buruh yang marah itu. Editorial Sun menyalahkan pemerintah kota dan polisi. Polisi harus bertanggung jawab. Kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian, menurut Dan, “Bukanlah cara yang pantas dalam memperlakukan warga Amerika.”
» Read the rest of this entry «

Sensus Pancasila

April 27th, 2013 § 0 comments § permalink

PANCASILA

Satu…..Ketuhanan Yang Maha Esa

Dua……Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Tiga……Persatuan Indonesia

Empat…Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Lima…..Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Mengapa saya menulis teks Pancasila seolah saya berteriak dalam upacara bendera? Jawab saya baca saja ‘Bupati Magetan, Sumantri jadi bahan tertawaan karyawan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Magetan’. Lantas, hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengungkapkan sebanyak 15,09 persen penduduk tidak hafal Pancasila. Hasil survey lain, dilakukan harian Kompas, dan dirilis pada 1 Juni 2008, memperlihatkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila memang merosot tajam. Survei yang dilakukan Kompas pada tanggal 28 – 29 Mei Mei 2008 tersebut menunjukkan bahwa 48,4 % responden berusia 17 – 29 tahun menyebutkan kelima Pancasila salah atau tidak lengkap. 42,7 % responden berusia 30 – 45 tahun salah menyebutkan kelima Pancasila. Responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 % yang salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Pentingkah kita menghafal Pancasila?

Ya, sudahlah tidak perlu dipikirkan dan dibahas!

Apa boleh buat, toh pelaksanaan Pancasila di negeri ini tergantung apa kata sensus! Tergantung pada akurasi database kependudukan pemerintah. Seperti permisalan dalam judul tulisan diatas Sila Dua, Sila Lima, dan Apa Kata Sensus?

Diskusi-diskusi pemikiran di negeri ini seharusnya sudah mulai mengarahkan pada tekanan kepada pemerintah, bagaimana kita mendata penduduk secara benar dan akurat. Hari ini, kelanjutan sejak 1945, pembangunan Indonesia seperti membangun rumah di atas tanah yang selalu bergerak.
Akhirnya, Indonesia selalu diterpa marabahaya. Warga negara asing menyusup begitu mudah, sebagian menjadi teroris, tukang bom, sebagian lagi menjadi penjahat atau tukang mata-mata. Di atas kertas, pemerintah menguasai wilayah dan warga negara bernama Indonesia. Namun pemerintah kita tidak tahu banyak soal rakyatnya sendiri. Rakyat dipandang seolah-olah entitas yang given, terberi: pokoknya ada rakyat. Titik. » Read the rest of this entry «

DENSUS 88 Dalam Sebuah Buku

March 13th, 2013 § 0 comments § permalink


Pemisahan Polri dari ABRI tidak hanya membawa berkah bagi Polri, tapi juga kesatuan di bawahnya, Densus 88 AT yang terbentuk tahun 2003 sebagai bagian dari respon atas terjadinya serangan 911 tersebut. Keberadaan Densus 88 AT menjadi salah satu kesatuan di Polri yang meningkatkan citra Polri di mata publik dengan sejumlah prestasi dan aktivitasnya. Dengan sejumlah situasi politik yang terkondisikan menguntungkan Polri, maka Densus 88 AT kemudian menjelma menjadi kesatuan elit yang setara dengan kesatuan pemukul terror yang ada di tiga matra TNI yang telah lebih dulu eksis keberadaannya.

Di sisi lain, prestasi Densus 88 AT yang fenomenal tersebut mengundang permasalahan tersendiri, apalagi posisi Densus 88 AT yang di bawah Bareskrim Polri memungkinkan tugas dan fungsi tidak hanya pada pemberantasan terorisme, tapi juga pada fungsi-fungsi dari Reskrim. Meski pada akhirnya Densus 88 AT berpisah dari Bareskrim, namun karakteristik dasarnya tidak berubah. Di mana Densus 88 AT tetap dilibatkan dalam sejumlah peran dan fungsi yang melekat pada Bareskrim Polri.

Melalui buku ini, dikupas lembaran demi lembaran persoalan yang dihadapi Densus 88 AT, baik yang terkait dengan terror, konflik, hingga pengalihan isu dari sejumlah kasus politik dalam membongkar sindikat terorisme dan kejahatan khusus lainnya.

Penulis: Muradi
Penerbit: Dian Cipta, Bandung
Layout & Ilustrasi: Arseindy
ISBN: 978-602-18753-0-8

Cetakan I, September 2012
14 X 21 cm Hal: x + 163
Rp 30.000 + Ongkos Kirim
Pemesanan:
0896-5631-5041 atau email ke dianciptapublishing@gmail.com