Apr 12, 2014 - Catatan Kaki    No Comments

Kangen Mawar Merah

Baca baca lagi isi blog tahun lalu…tahun yang lalunya, yang lalunya juga. Ternyata, sudah sangat lama blog ini tak terjamah. Alhamdulillah passwordnya masih ingat :). Kini insya Alloh akan balik lagi, ngeblog lagi, menulis hal-hal sederhana…see you

Jan 21, 2011 - Diary Pejalan Sunyi    13 Comments

Diary Bondan Wibisono

Beberapa hari lalu,  mendapatkan surat dan pertanyaan dari sahabat yang memanggil saya *pakde* “Siapakah Pakde sebenarnya?” dan ada juga sekadar guyon *antara ada dan tiada*. Hal ini mengingatkan saya soal anynomous blogger atau ghost blogger. Tetapi, itu tidaklah penting jika para sahabat mengikuti setiap tulisan-tulisan saya. Sekadar mengulang kembali tulisan lama, usai menghadiri reuni para pejalan sunyi: Kesendirian mengajarnya menjadi pribadi dewasa yang kuat dari terpaan puting beliung sekalipun. Kesunyian menjadi dunia miliknya, lengkap dengan monolog demi monolog panjang antara hati dan logika. Berinteraksi dengan sesama ternyata memberinya begitu banyak goresan luka, goresan luka yang diakibatkan oleh harapannya sendiri yang membentur karang terjal dan menghempaskannya dalam kekecewaan yang hanya layak dikonsumsinya sendirian. Read more »

Apr 16, 2014 - Diary Pejalan Sunyi    No Comments

Catatan Fajar Senja

Menatap belantara hari dari pinggiran pematang bernama fajar, hati kecut membayangkan matahari  menghujam ubun ubun sampai ke dalam hati ketika diri membungkuk menyiangi tetanaman pengalaman yang dipertahankan dan dipelihara demi eksistensi semata. Ditangan hanya ada belati, bekal dari sang bunda untuk membunuhi gulma nurani, dan berkonsep mimpi terbentuk dari satu demi satu detik yang terjalani di masa lalu, berharap terkumpul jadi satu rangkaian cerita biografi tentang seorang penghuni muka bumi.

Ternyata cinta yang menempatkan diri terlalu tinggi pada suatu saat sesuatu akan membantingnya keras ke permukaan bumi, kepada pijakan kaki; ladang garapan kehidupan sendiri. Awan gemawan di langit pijar seperti membujuk untuk terus menatap, bahkan terkadang terlalu indah mengabaikan sayap untuk tidak berkepak dan menari diantara gumpalannya, bertualang rasa diantara kerahasiaannya menjadi raja atas bukan siapa siapa kecuali diri sendiri.

Menatap belantara garapan hari ditepi pematang senja, hati kecut menengok tetanaman binasa bekas pesta para durjana. Mencuri kepercayaan, merampok kasih sayang, dan menggadaikan pengorbanan atas ribuan tahun mengembara sendirian. Tidak apa, bujuk sang nurani. Matahari  itu menuntunmu menabur bebijian benih harapan, diladang kering yang kelak akan menunggu datangnya hujan. Turunlah kemari, ke bumi di atas tanah merah dan letakkan sejenak sayap khayali, buka baju biarkan angin dan matahari menciumi dada dengan bebas. Read more »

Apr 15, 2014 - Catatan Kaki    No Comments

Seminggu

Seminggu…Seharusnya kamu sudah lebih baik hari ini. Tapi siapa yang bisa mengharuskannya? Sementara keping hatimu koyak koyak tak rupa. Terbuang begitu saja, tak ada lagi yang mau menolehnya. Seakan tak berharga.

Meratapi diri dengan menangis dan menertawakan kebodohan? Tidak!! Tak guna sedih yang menjelempah…

Kemarilah, akan kuhapus sedih dan sakit yang kau rasa. Kau cukup kuat, ada dan tiada adalah seperti dua sisi mata uang saja. Istirahatlah sejenak, nikmati sepoy angin di musim dingin menyapamu.

Seminggu…Lihatlah, kau sudah perlahan mampu melewati saat sulitmu.

Tersenyumlah Bondhan

.*Untuk seorang sahabat…You have enough strength to face it all.

Apr 15, 2014 - Diary Pejalan Sunyi    No Comments

Surat Kepada Sunyi

Dingin menggigit tulang, mencekik setiap sendi, mengikat pembuluh darah, di malam yang kian merangkak menemuimu. Gemeletuk geligi terdengar seirama suara detik jarum jam dinding di ruang tamu, di kamar, di ruang tengah dan lihat..ternyata mampu mengacaukan bayangmu.

Sunyi beribu mil jarak yang tertempuh, berabad waktu yang memasung raga dan jiwa untuk bertemu. Namun tetap saja hampa yang kutemui dan rindu yang membumbung tinggi tak terbendung ini terlalu cerdas untuk tetap aku alamatkan kepadamu. Aku mencoba melukis bayangmu di tempat di mana saja aku bisa melukiskannya. Namun apa hasilnya…? Read more »

Apr 15, 2014 - Catatan Kaki    No Comments

Yang Tercecer Kemudian

Ah….engkau seperti mengasing, aku pun terasing. dunia terus berpusing, dan kita selalu berada dalam sisi yang berbeda. “ketepe“, kata Silvia dalam film “interpreter”, “kita berada di dua sisi sungai. Dan, menunggu sebuah alasan untuk bisa merapat.”

Aku tak tahu, apakah kita juga tengah “menunggu sebuah alasan” untuk dapat merapat. Tapi, hari-hari yang lewat, ternyata tak mengubur apa pun tentang kamu. Jelajahanku, sejauh apa pun, pasti tetap akan singgah ke halamanmu. Seolah ada simpul syaraf yang secara otomatis menuntunku ke sana.

Aku kangen dengan iklim “keterhubungan” kita waktu itu. tapi, aku juga ragu, dapatkah kini aku “memanggilmu” hanya dengan “seutas” kangen, yang mungkin getas, dimakan waktu ?

Aku mengira, nanti, ketika kesibukan dan kerja tak lagi mampu “meringkusmu”, akan kukirimkan segaris pesan bahwa, “sungai itu tak ada. Dan, kita tak pernah terpisah di dua sisinya. Kini, kita sejalur, sejajar, dan tak perlu alasan untuk tak lagi berbicara, dengan nada yang kita berdua, memahaminya.”

semoga, di dalam diri kita, tak pernah ada sungai, tak pernah kita tumbuhkan sungai…

*) semoga….!!!

Apr 14, 2014 - Diary Pejalan Sunyi    1 Comment

Kampung Biru Dalam Kenangan

Aku tiba saat lampu lampu jalanan baru saja dipadamkan. Mendarat dengan selamat dengan penerbangan pertama yang menurunkanku di terminal yang salah. Aku mengecoh hati yang bergemuruh lantang tak keruan, dengan sesekali bersenandung nyanyian kacau. Ah, jeda ini ternyata begitu lama, aku terlambat menyadarinya. Hati yang terlanjur kebas, datar menyusuri peron menyapa datar pada seonggok bangku di sudut cafetaria.

Kukibas resah dan tanya yang bergumul tak mau kalah sambil memerhatikan orang orang yang berjalan bergegas ; entah apa yang ada di pikiran mereka.

Laju kendaraan memenuhi jalur aspal yang membujur membelah ibukota. Semua sudut kota mungkin mulai mengawali hari cerah ini dengan deru yang sama bisingnya. Kupilin ujung kemejaku dan pikirku melayang jauh menyebrangi waktu yang nyaris sewindu. Rekaman kisah seolah film usang berwarna sephia, dan aku mengumpulkan fragmen-fragmennya dengan gemetar. Terus saja kusimpan segala kemungkinan dalam sebuah kotak berlabel waktu yang menjadi misteri. Read more »

Apr 12, 2014 - Diary Pejalan Sunyi    No Comments

Hujan Pagi Itu…

Hujan sepagi itu, daun daun basah. Bulir air menggantung berat pada kelopak mawar jingga. Kuntum bunga matahari yang baru saja mekar tersenyum menyambut titik titik yang rekah bersama fajar.

Jalanan basah, juga setapak kecil yang dikiri kanannya ditumbuhi angsana menjulang itu,  dipenuhi guguran bunga kuning menebar keharuman eksotis. Magis.

Lalu ingatanku terbang, mengawang pada kenangan yang dihadirkan hujan kepagian.

Hujan kecil-kecil pagi itu mengajakku kembali menyesap manisnya riwis gerimis yang turun di senja yang ranum, belasan tahun lalu.

Sepasang mata dengan manik berwarna coklat, diteduhi alis mata yang rimbun itu, kini kerap hadir. Bukan tak kuundang. Sengaja kupanggil, namun tidak seperti anak-anak jahil yang memanggil arwah dengan bantuan jailangkung. Bukan ! Ini adalah kerinduan. Iya…aku merinduimu…merindui sesungging senyum dan gelak tawa jenaka  yang menenggelamkan mata indahmu.

Hujan selalu saja menghadirkan rasa yang berbeda di setiap pituturnya. Selalu saja menghadirkan kerinduan. Kerinduan yang membekukan.

Kau ingat saat kita berjalan berjingkat di sepanjang emperan toko. Aku menggulung tinggi celana panjangku. Dan kau melingkarkan kemeja birumu di atas kepalaku.“Nanti kamu flu”. Begitu katamu sambil terus menjejeri langkahku. Padahal kau tau….tak ada hujan yang dapat membuatku sakit. Kita sudah bersahabat dengannya, bukan?. Read more »

Apr 12, 2014 - Catatan Kaki    No Comments

Sahabat Sejati Bernama…

Tiba-tiba mendung itu mengingatkanku sahabat-sahabat terbaik semasa SMA. Serta merta aku dirundung rasa rindu dan haru yang teramat sangat. Teringat, Lelaki bertubuh  ringkih namun sejatinya ia adalah seorang yang tegar. Banyak hal yang sering kami alami berdua. Ia adalah sahabat tanpa rasa iri terhadap apapun yang dicapai atau dimiliki oleh orang lain. Nampak kekanakan dari sikapnya, namun sangat dewasa dalam bertindak.

Bapak, Ibu dan keluarga besar kami..menerimanya sebagai bagian dari keluarga kami. Ia anak Bapak dan Ibuku juga. Ia adalah pencatat sejarah kenakalan saya.

Ingat, saat kami diminta untuk melukis pada salah satu acara yang melibatkan seluruh sekolah di kota Yoja, kala itu. Selepas melukis, kami mendapat honor yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran kami saat itu. Honor yang menggembirakan yang kami belikan sepatu dengan merk namun warna yang berbeda.  Sejak itu, kami sering membeli barang-barang yang sama, meskipun seringnya selera kami berbeda dan kami tidak pernah ngotot dengan pilihan masing-masing.

Sahabatku yang lain, Rahayu…perempuan berkacamata nan lembut. Tidak pernah berselisih paham dengan siapapun, sangat pengalah, dan sangat dewasa (untuk seusia kami saat itu). Sederhana dan tidak banyak maunya, meskipun ia dari keluarga yang berada. Pemurah dan senang sekali menolong teman yang kesusahan.

Rahayu ini adalah sahabat saya sejak saya SMA, ia bukan tipe perempuan yang meledak-ledak, cenderung diam.

Nilai raportnya selalu bagus, tak heran karena ia sangat rajin belajar. Read more »

Nov 22, 2013 - Akrobat    No Comments

Namanya Akil

Sudah lama tidak membuka album guntingan koran dan sesaat mata ini berhenti, Harian Kompas, Jumat 4 Oktober 2010, halaman 2. “Nanti tempo-tempo saya ke Malang, beli kopi di tempat Ibu. Hem …, siapa tahu lewat kan. Saya berhenti. Kita enggak tahu nasib orang kan. Bisa saja, atau malah kebalikan, Ibu duduk di sini, saya malah jualan pakai gerobak. Ini nasib kita tidak bisa tahu. Orang baik-baik hari ini terkenal, tiba-tiba sore ditangkap KPK. Selesai. Ya, kan. Republik ini enggak bisa diduga,” ucap Akil saat itu. Sehari sebelum ditangkap, Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, ketika memimpin sidang sengketa Pemilu Kepala Daerah  Jawa Timur, Selasa (1/10), melontarkan pesan menarik saat berdialog dengan Saropah, penjual tahu lontong dari Malang.

Tidak ada yang mengira apa yang diungkapkan Akil itu justru menimpa dirinya sendiri. Saya jadi ingat Taufik Kiemas yang kerap salah ucap, saat penyerahan jenazah Gus Dur kepada negara akhir 2009, Taufiq mengucapkan “Waktu Irian Barat”, padahal seharusnya “Waktu Indonesia Barat”. Pada peringatan Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2010, Taufiq membaca sila ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan….” dan sila kelima “Keadilan sosial bagi bangsa Indonesia”. Taufiq berkilah, kesalahan itu karena faktor umur. “Namanya juga orang tua. Agak salah bacanya, padahal teksnya cukup besar,” ujarnya. Tokoh muda, Anas Urbaningrum mengucapkan kata-kata “gantung di Monas”, mungkin maksudnya semacam pembelaan, dan bersumpah bahwa dia tidak melakukan korupsi. Rekannya sesama anggota Demokrat, Ruhut Sitompul, Sutan Bathoegana, dan Ramadhan Pohan, yang kata-katanya justru acap berbalik menghantam mereka sendiri.  Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengungkapkan alasan mengapa dia bersedia menerima dukungan DPD I se-Indonesia untuk menjadi calon presiden pada Pemilihan Umum 2014. Katanya, bukan untuk mencari harta dan kekayaan, bukan pula untuk mencari popularitas. “Kalau uang, alhamdulillah, Allah sudah memberikan cukup untuk saya. Kalau soal popularitas, saya sudah populer,” ujarnya. Dia mengaku menerima dorongan menjadi capres demi memperbaiki nasib rakyat. Read more »

Jokowi ‘Tangan’ Yahudi Jilid 2?

Alhamdulillah sekitar 50 komentar dalam postingan Jokowi ‘Tangan’ Yahudi ? Saya mengucapkan terima kasih dan cukup adil jika saya menanggapi komentar sahabat-sahabat Mawar Merah dalam postingan tersendiri dengan imbuh jilid 2 dan tanda tanya. Khususnya supaya tidak ada lagi yang penasaran atau mengirimkan pertanyaan yang sama. Patut dicatat dan digarisbawahi bahwa saya memakai tanda tanya dalam artikel pertama, dan simak baik-baik “…Sebenarnya pertanyaan tersebut harus dibalik kapan tangan Yahudi datang mendekati Jokowi dan kita menantikan juga dengan taraf kecerdasan yang seimbang sehingga mereka tidak mampu melakukan dekonstruksi pikiran calon pemimpin ini.” Cukup jelas, bahwa saya tidak menuduh Jokowi seorang Yahudi.

Cara berpikir linear dalam sebuah garis lurus dari sebuah kelompok masyarakat adalah hal yang biasa. Hal ini terpola karena setiap anggota kelompok terekspos dalam cara pandang tertentu dalam periode waktu yang cukup lama. Sesungguhnya apa yang terjadi secara berkelompok tersebut adalah pembentukan cara berpikir dan cara menganalisa seseorang terhadap suatu persoalan menjadi khas dari sudut pandang tertentu. Kata sudut pandang sudah mencerminkan sebuah cara berpikir linear yang seringkali bersifat bersilangan dengan sudut pandang lain.

Tujuan artikel tersebut ditulis adalah mengajak semua komponen bangsa melakukan proses membuka pandangan untuk melihat keseluruhan kemungkinan yang bisa terjadi dalam suatu persoalan. Cara pandang komprehensif memang akan melelahkan karena diperlukan wawasan dasar yang cukup dan energi yang besar untuk dapat menekuninya, sampai suatu saat anda bisa secara sistematis memiliki insting. Jadi pikirkan kembali sebelum menuduh bahwa terjadi kelinglungan dalam menjadi bekas-bekas langkah di hamparan pasir. Read more »

Pages:1234567...46»